(Prof. DR. H. Nizar, M.Ag: Saya Mengharuskan Diri untuk Hadir setelah Kakanwil Kemenag Provinsi NTB, H. Zamroni Aziz, SH.,MH., Memohon Kehadiran untuk Pembinaan)
Pembinaan ASN lingkup Kanwil Kemenag NTB oleh Sekjen Kemenag RI
Prof. DR. H. Nizar, M.Ag
Ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Kementerian Agama Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memenuhi Rinjani BallRoom, Hotel Lombok Raya Kota Mataram. Tempat duduk yang tersedia (oleh Panitia) sejatinya hanya berada dalam BallRoom namun sampai meluber diluar ruangan pembinaan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat, H. Zamroni Aziz, SH.,MH. saat sambutannya, mengatakan, “Pegawai Aparatur Sipil Negara yang ada pada lingkup Kantor Wilayah Kemenag NTB sungguh ingin melihat Sekretaris Jendral Kementerian Agama Republik Indonesia dari dekat, selama ini hanya dapat dilihatnya dari media saja. Hari ini sungguh luar biasa antusias dan cinta pegawai ASN pada Sekjennya, Prof. DR. Nizar, M.Ag.” terdengar riuh tepuk tangan dari peserta pembinaan.
Sekretaris Jendral (Sekjen) Republik Indonesia Prof. DR. Nizar, M.Ag., nampak bahagia dan semangat, Nizar bercerita latar belakang kehadirannya, “melalui seluler, Zamroni menyampaikan permohonan kehadiran dan memberi pembinaan pada pegawai ASN lingkup kantor wilayah kemenag se-NTB, maka saya mengharuskan diri untuk hadir, namun hampir saja, pulang balik ke Jakarta, suasana yang nampak beda dengan yang lainnya, massa (pegawai ASN) meluber sampai diluar BallRoom, dengan suasana sekarang ada “kekhawatiran” akan disangka “memobilisasi atau mengerahkan massa” dengan banyak pegawai ASN.” Disambut riuh tepuk tangan dari peserta pembinaan.
Hal ini, menunjukkan suasana yang terbangun keakraban dan kekeluargaan antara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB dan Sekretaris Jendral Kemenag RI.
Pembinaan Pegawai ASN itu, Nizar, menjelaskan sistem Merit yang terdapat dalam Undang undang No. 5 tahun 2014 tentang ASN: bahwa kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada; 1. Kualifikasi; 2. Kompetensi; 3. Kinerja;. Dan hal ini, harus terbangun keadilan dan kewajaran dengan tanpa membedakan latar belakang.
Sementara ini pegawai ASN pada beberapa formasi ada ketimpangan antara kebutuhan dengan formasi. Maka perlu ada perbaikan. Sebuah contoh seorang PNS kualifikasi S1 mengisi formasi yang tidak sesuai formasinya. Dalam hal kompetensi pegawai PNS mendapat skor dari Uji Kompetensi masih dibawah standar minimal. Sehingga akan dilakukan review.
Aspek kinerja pegawai PNS, kinerja harus diraih secara kualitas dan kuantitas. Kerja yang terukur akan mendapatkan hasil kinerja secara kategorinya Cukup, Baik, dan Amat Baik, namun ada kategori di bawah itu, maka atasan dapat memberikan pembinaan sesuai dengan aturan berlaku. Apabila pembinaan tidak mempan maka diambil kebijakan lain, “di”bina”sa”kan.”
Kegiatan Pembinaan ASN lingkup Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat dihadiri juga oleh Rektor UIN Mataram, Prof. DR. H. Masnun Tahir, M.Ag., Komisioner KPU NTB, Kepala Kantor Kemenag Kota/Kabupaten se-NTB, Kepala Madrasah Negeri semuat tingkat, MIN, MTsN, dan MAN se-NTB, dll. nampak juga Kepala MTsN 2 Kota Bima, E. Amryn, S.Ag.,M.S.I., sambil berseloroh menyampaikan, “kegiatan pembinaan pegawai ASN ini mengingatkan kepada kita untuk melaksanakan kewajiban, tugas dan fungsi ASN dengan baik sehingga mendapat kinerja dengan kategori “Amat Baik” dan harus meningkatkan kompetensi dengan nilai di atas minimal.”
Kepala MTsN 2 Kota Bima menyambung pandangannya, “Sekjen RI, sangat ketat pada ASN yang tidak netral. Maka apabila ada ASN kita yang membantu dalam kegiatan politik praktis pada salah satu paslon akan diberikan sanksi berat sesuai dengan aturan yang berlaku, maka perlu ada bukti yang kuat tidak boleh fitnah.”
kegiatan pembinaan ASN lingkup Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB dilaksanakan pada Ahad, 27 November 2023. (Author:AE001)
Mengenal Kitab Shahih Al Bukhari
NOV 30
Posted by Fadhl Ihsan
Oleh: Ustadz Abu Abdirrahman Hammam
Inilah sebuah karya monumental, kumpulan hadits shahih yang sangat masyhur di tengah kaum muslimin. Kitab ini tentu tak asing lagi di telinga kita. Nama asli kitab ini adalah Al Jami’ Ash Shahih Al Musnad min Haditsi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wassalam wa Sunanihi wa Ayyamihi.
Kitab ini ditulis oleh seorang yang dahulunya adalah anak yatim. Beliau bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah Al Bukhari Al Ju’fi. Kita lebih mengenalnya dengan Imam Al Bukhari, seorang imam ahli hadits yang terkemuka. Bahkan ulama menyebut beliau Amirul mukminin fil hadits, yaitu pemimpin imam ahli hadits.
Kitab ini laksana cahaya yang benderang, melebihi terangnya sinar matahari. Kaum muslimin, bahkan para ulama menilai buku ini sebagai buku yang luar biasa. Imam Muslim misalnya, beliau banyak mengambil faedah dari karya agung ini. Beliau mengatakan bahwa karya ini tidak ada tandingannya dalam ilmu hadits.
Imam Nawawi mengatakan dalam muqaddimah Syarah Shahih Muslim, “Para ulama sepakat bahwa buku yang paling shahih setelah Al Qur’an adalah dua kitab shahih, Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim.”
Cukuplah pengakuan para imam ahli hadits menunjukkan keagungan kitab ini. Abu Ja’far Mahmud bin Amr Al Uqaili rahimahullah mengisahkan ketika Al Bukhari menulis kitab shahih ini, beliau membacakannya kepada Imam Ahmad, Imam Yahya bin Main, Imam Ali bin Al Madini, juga selain mereka. Maka mereka mempersaksikan tentang keshahihan hadits-hadits yang ada, kecuali empat hadits. Dan ternyata, empat hadits itu pun, yang benar adalah pendapat Al Bukhari bahwa empat hadits tersebut shahih.
Di antara pelecut semangat Al Imam Al Bukhari dalam menyusun kitab ini adalah dorongan salah seorang guru beliau. Al Bukhari sendiri menyebutkan, “Kami berada di sisi Ishaq bin Rahuyah, beliau mengatakan, ‘Seandainya kalian dapat mengumpulkan suatu kitab yang ringkas tentang sunnah Rasulullah yang shahih.’ Ucapan beliau ini begitu menyentuh hatiku. Maka aku pun mulai mengumpulkan Al Jami’ Ash Shahih.”
Al Imam Al Bukhari menyaring hadits-hadits beliau yang berjumlah 600.000 hadits. Beliau menyusun kitab ini selama 16 tahun. Syarat keshahihan yang beliau tetapkan dalam kitab ini sangat ketat. Yaitu harus bertemunya para perawi dengan guru yang ia riwayatkan haditsnya. Artinya beliau memastikan benar-benar tersambungnya rantai sanad hadits sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan pertemuan masing-masing guru dan murid. Jadilah kitab ini kitab yang paling shahih, sebab beliau telah menentukan syarat yang tidak dijumpai dalam kitab hadits yang lain. Demikian kesepakatan ahlus sunnah.
Di antara yang menunjukkan kesungguhan beliau dalam menyusun karya ini adalah -sebagaimana diriwayatkan oleh Muhammad bin Yusuf Al Firyabi- bahwa Imam Al Bukhari mengatakan, “Tidaklah aku menuliskan satu hadits pun dalam kitab ini, kecuali aku mandi terlebih dahulu, kemudian shalat dua rakaat.” Yaitu shalat istikharah, memohon keteguhan hati kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.
Ciri Khas Kitab dan Metode Penulisan
Al Imam Al Bukhari rahimahullah ingin untuk mengumpulkan suatu kitab yang bersambung rantai periwayatannya, ringkas, dan mencakup hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang shahih serta bersambung sampai beliau shallallahu ‘alaihi wassalam.
Beliau menulis karya ini dengan penyusunan yang mengagumkan. Di mana, di dalamnya terdiri dari berbagai kitab-kitab [1], dalam satu kitab terdiri dari rangkaian bab-bab yang lebih khusus. Setiap bab terdapat dalil-dalil yang berjumlah tertentu, sedikit atau banyak, sesuai kebutuhan.
Para ulama menjelaskan bahwa judul-judul bab yang beliau tulis dalam kitab shahih ini bukan sembarang judul. Pemberian judul bab pada buku ini timbul dari pemahaman yang mendalam terhadap setiap kandungan makna dalil yang disodorkan. Oleh karenanya menjadi masyhur bahwa, “Ilmu fikih Al Bukhari ada pada judul babnya”. An Nawawi mengatakan, “Imam Al Bukhari tidak hanya sekadar bertujuan meringkas hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dalam kitab beliau ini. Namun, beliau ingin mengambil kesimpulan hukum dengan bab-bab yang beliau cantumkan.”
Dalam penulisan hadits, terkadang beliau mengulangi satu hadits dalam beberapa bab. Karena dalam hadits tersebut ada beberapa permasalahan hukum, sehingga beliau memasukkannya ke dalam pembahasan beberapa bab, beliau mengambil faedah dalam satu hadits itu. Beliau menambahkan pula beberapa ayat Al Qur’an, fatwa dari para shahabat dan At Tabi’in.
Karya beliau ini mencakup seluruh hukum-hukum syariat, amaliyah (amalan lahiriah) ataupun i’tiqadiyah (keyakinan). Kitab Shahih Al Bukhari tersusun 97 kitab. Dimulai dari kitab awal turunnya wahyu, berlanjut kitab tentang iman, kemudian kitab seputar ilmu, lalu masuk kepada pembahasan ibadah, mulai dari wudhu dan seterusnya. Beliau mengakhiri dengan menyebutkan kitab tentang perintah berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As Sunnah, terutama mengenai tauhid.
Urutan penyusunan bagian-bagian kitab ini secara utuh menunjukkan bahwa hadits merupakan wahyu Allah melalui lisan Rasul-Nya. Beliau tidak berucap dari hawa nafsu beliau, tetapi dari wahyu Allah, berupa syariat. Maka kita wajib mengimaninya, berpegang teguh dengannya, untuk mentauhidakan Allah dengan benar.
Adapun kitab-kitab yang men-syarah (memaparkan dan menjelaskan) Shahih Al Bukhari ada banyak. Di antaranya:
• Umdatul Qari Syarh Shahih Al Bukhari oleh Al Allamah Badruddin Al Aini
• Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari oleh Al Hafizh Zainuddin Abul Faraj Ibnu Rajab Al Hambali
• Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani
• Syarah Al Bukhari oleh Ibnu Baththal dan lain-lain.
Catatan Kaki:
[1] Yang dimaksud ‘kitab’ di sini adalah sekumpulan bab-bab rincian pembahasan. Misalnya, Kitabul Buyu’ (jual beli) di dalamnya terdapat macam-macam bab rincian pembahasan dalam masalah jual beli.
Referensi:
1. Tahdzibu Al Kamal Fi Asma’i Ar Rijal karya Al Hafizh Abul Hajjaj Yusuf bin Al Zaki Abdurrahman Al Mizzi rahimahullah
2. Siyar A’lami An Nubala’ karya Al Hafizh Muhammad bin Utsman Adz Dzahabi rahimahullah
3. Fathul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah
Sumber: Majalah Qudwah edisi 01/1433 H/2012, hal. 70-72.
Kamis, 25 Maret 2010
“RUANG LINGKUP KITAB SAHIH MUSLIM BESERTA SUBTANSINYA”
Oleh : Eny Khusniatul Wakhidah, Eka Rumsatut Yunita, Faizah Azza Nastiti, Hanny Istiana, Hayati, Heni Novita Sari , Eka Zeni Fitriana, Fatimah & Ema Kurniati
A. Pendahuluan
Para ulama' Rahimakumullah telah bersepakat bahwa kitab terbaik setelah Al-quran adalah kitab Sahih Al Bukhori dan Sahih Muslim. Kedua kitab ini telah terbukti diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka oleh muslimin, namun kitab Sahih Al Bukhori dianggap lebih sahih serta lebih banyak mengandung faedah dan pengetahuan. Telah diriwayatkan dari jalur yang sahih bahwa Imam Muslim Rahimahullah termasuk orang yang telah mengambil faedah dari Imam Al Bukhori Rahimahullah.
Kitab Al-Jami' As-Shahih karya Imam Muslim muncul pada periode ke-5 jika dilihat dari periodesasi sejarah dan perkembangan hadis. Dan tepatnya pada masa-masa pemerintahan dinasti Bani Abbas, sekitar abad ke-3 H. Dan peran kitab Al-Jami' As-Shahih itu sendiri sebagai hasil dari upaya Imam Muslim dalam melakukan penyaringan dan seleksi akan hadis-hadis yang telah ditadwin pada periode sebelumnya. Karena pada periode sebelumya yakni pada awal-awal kodifikasi dinilai masih banyak hadis-hadis yang tercampur antara yang sahih dengan yang dhoif, sehingga para ulama' periode berikutnya melakukan penyaringan dan menghimpunnya dalam kitab-kitabnya masing-masing dengan mengembangkan metode dan sistem pentadwinannya. Seperti Imam Muslim dengan Al-Jami' As-Sahihnya.
B. Biografi Imam Muslim
Nama lengkap Imam Muslim adalah Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslimn bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Beliau dilahirkan di daerah Naisabur pada tahun 206 H. Tetapi menurut redAksi kitab lain Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H.
Namanya dinisbahkan kepada Naisabur, karena ia di lahirkan di Naisabur, sebuah kota kecil di Iran bagian timur laut. Di samping itu, namanya juga dinisbahkan kepada nama nenek moyang atau kabilahnya, yaitu Qusyair bin Ka'ab bin Rabi'ah bin Sa'sa'ah, sebuah keluarga bangsawan yang sangat besar.
Sejak kecil Ia memang suka belajar hadis. Ia mulai mengkaji hadis pada usia kurang lebih 12 tahun. Begitu seriusnya mempelajari hadis, sehingga pada masanya ia dikenal sebagai orang yang gemar berhijrah ke berbagai daerah atau negara untuk menimba ilmu hadis.
Beberapa daerah atau negara yang pernah beliau jajaki antara lain :
1. Di khurasan, ia belajar hadis kepada Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih dan ulama' hadis lainnya.
2. Di kota Ray, ia belajar hadis kepada Muhammad bin Mahram, Abu Gasan, dan lain-lain.
3. Di kota Hijaz, ia belajar hadis kepada Sa'id bin Mansyur dan Abu Mas'ab.
4. Di kota Mesir ia belajar hadis kepada Amir bin Sawad,Harmalah bin Yahya, dan ulama' hadis lainyya.
5. Di mekah, ia belajar hadis kepada Qa'nabi.
6. Di kota Bagdad, ia belajar hadis kepada Imam Bukhori, beliau memakan kurun waktu yang cukup lama ketika belajar hadis kepada Imam Bukhori.
Di samping itu, Imam Mulim juga dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, tawadzu', wara', dan memiliki kehalusan budi bahasa. Bahkan, menurut adz-Dzahabi, ia dikenal dengan sebutan "Muslim dari Naisabur".
Imam Muslim wafat pada hari ahad sore, 24 Rajab 261 H/875 M, dalam usia 55 tahun. Jenazahnya dimakamkan esok harinya, yaitu hari senin,25 Rajab 261 H/875 M di kampung Nasr abad, Salah satu daerah di sebelah Naisabur.
Beberapa karya-karya beliau adalah :
1. Al-Asma’ wal-Kuna.
2. Irfadus Syamiyyin.
3. Al-Arqaam.
4. Al-Intifa bi Juludis Siba’.
5. Auhamul Muhadditsin.
6. At-Tarikh.
7. At-Tamyiz.
8. Al-Jami’.
9. Hadits Amr bin Syu’aib.
10. Rijalul ‘Urwah.
11. Sawalatuh Ahmad bin Hanbal.
12. Thabaqat.
13. Al-I'lal.
14. Al-Mukhadhramin.
15. Al-Musnad al-Kabir.
16. Masyayikh ats-Tsawri.
17. Masyayikh Syu’bah.
18. Masyayikh Malik.
19. Al-Wuhdan.
20. As-Shahih al- Masnad.
Kitab-kitab nomor 5, 19, dan 20 telah dicetak, sementara nomor 1, 12, dan 14 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.
C. Sistematika Penulisan
Sistematika penyusunan Imam muslim dalan mengarang kitab Sahih Muslim yaitu:
1. Judul Asli
Kitab himpunan hadis sahih karya Imam Muslim ini berjudul asli :
"المسند الصحيح المختصر من السنن بنقل العدل عن العدل عن رسول الله صلي الله عليه وسلم".
2. Motif
Motif yang mendorong Imam muslim untuk menyusun kitab Sahih Muslim sekurang-kurangnya karena ada dua alasan pokok,yaitu:
1. Pada masanya masih sangat saulit mencari referensi koleksi hadis yang memuat hadis-hadis sahih dengan kandungan yang komplit dan sistematis.
2. Pada masanya terdapat kaum zindik yang selalu berusaha membuat sebuah hadis palsu dan menyebarkannya, serta mencampuradukkan antara hadis-hadis yang sahih dan dhaif.
Dengan menilik periodesasi sejarah dan perkembangan hadis, dapat dinyatakan bahwa kitab sahih muslim muncul pada periode ke-5 ( Abad ke-3 H ), yaitu masa pemurnian dan penyempurnaan hadis.
3. Masa Penyusunan
Penyusunan kitab tersebut memakan waktu sekitar 15 tahun. Sebagaimana pernyataan salah satu muridnya yang mendampingi beliau dalam penyusunannya , yakni Ahmad bin Salamah, beliau mengatakan ,"Aku menulis bersama muslim untuk menyusun kitab Sahih itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 hadis". Dan kitab ini disusun baik ketika Imam Muslim berada di tempat tinggalnya maupun ketika beliau melakukan rihlah ilmiah ke berbagai wilayah. Dalam proyeknya itu beliau menyeleksi dari hafalan dan catatannya yang berjumlah 300.000 hadis. Perlu diketahui, bahwa pada mulanya sosialisasi kitab ini menggunakan model diperdengarkan kepada kaum muslimin. Secara garis besar ada dua jalur penyebarannya,yakni ke arah timur melalui Abu Ishaq bin Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, dan ke arah barat melalui Abu Muhammmad Ahmad bin Ali.
4. Jumlah Hadis
Dalam penyusunan kitab tersebut, ia menyeleksi ribuan hadis, baik dari hafalan maupun catatannya. Informasi lain menuturkan bahwa kitab sahih Muslim merupakan hasil seleksi atas sekitar 300.000 hadis. Imam Muslim berkata ,"Kitab sahih ini aku saring dari 300.000 hadis".
Kitab ini memuat banyak hadis. Hanya saja, mengenai akurasi jumlah hadisnya tidak ada kesatuan pendapat. Informasi yang beredarpun masih simpang siur. Menurut keterangan Ahman bin Salamah, seorang sahabat Imam Muslim sekaligus penulis naskah kitab ini, Sahih Muslim memuat 12.000 hadis. Sementara ulama' lain menyebutkan, jumlah hadis yang tertera dalam kitab ini sebanyak 7275 hadis. Pendapat lain menyebutkan jumlahnya 5632 hadis. Ada juga yang menyebutkan 4.000 hadis. Ada pula yang berkesimpulan bahwa jumlah hadis kitab ini adalah 3033 hadis.
5. Kedudukan
Para ulama' menempatkan Kitab Al-Jami' As-Shahih karya Imam Muslim pada peringkat ke-2 setelah Al-Jami' As-Shahih yang disusun oleh Imam Bukhori. Hal ini berdasarkan kualitas kesohihannya. Dan kitab inipun termasuk ke dalam kutubus sittah yang dinilai sebagai karya-karya monumental dalam sejarah kehidupan umat islam. Hal ini berkat ketelitian Imam Muslim dalam memasukkan hadis. Beliau pernah berkata: " Aku tidak mencantumkan satu hadispun ke dalam kitabku ini melainkan karena ada alasannya. Aku tidak menggugurkan satu hadispun di dalam kitabku ini melainkan karena ada alasannya".
Dari pernyataanya di atas , maka kita bisa melihat akan kecermatan Imam Muslim di dalam menyeleksi sebuah hadis untuk beliau susun dalam sebuah kitab. Namun tidak hanya kecermatan yang dimiliki oleh Imam Muslim di dalam menetapkan kualitas suatu hadis.
6. Metode Penyusunan
Metode yang ditempuh oleh Imam Muslim dalam menyusun kitabnya Al-Jami' As-Sahih sangat bagus sekali. Beliau menempatkan hadis-hadis yang memiliki kesamaan tema di tempat yang sama, dan tidak menempatkannya secara terpisah atau di tempat yang berbeda. Sehingga kitab Al-Jami' As-Sahih karyanya memliliki nilai sistematika ynag tinggi. Karena memang Imam Muslim tidak memiliki tujuan untuk mengaitkan dengan masalah fikih sebagaimana Imam Bukhori. Oleh karena itu tidak ada hadis yang sama di letakkan pada dua tema yang berbeda. Selain itu apabila ada seorang rawi berbeda dengan seorang rawi lainnya dalam menggunakan redaksi, padahal subtansi dan tujuannya sama,maka Imam Muslim menjelaskannya. Begitu pula apabila seorang rawi menggunakan lafad ا خبرنا ( ia mengabarkan kepada kami ), sedang rawi yang lain menggunakan lafad حدثنا ( ia menceritakan kepada kami ), maka beliaupun menjelaskan perbedaan tersebut.
7. Syarat-syarat Imam Muslim
Setelah melakukan penelaahan seecukupnya, para ulama' berkesimpulan bahwa syarat yang dipakai oleh Imam Muslim untuk menerima sebuah hadis dan layak dimasukkan ke dalam kitab sahihnya adalah :
a. Perawi adalah orang yang dikenal adil dan dhobit (kuat hafalannya dan tidak mudah lupa).
b. Hadis tersebut adalah musnad (lengkap rangkaiaan sanadnya),muttasil (sanadnya bersambung), dan marfu' (disandarkan kepada Rasulullah Saw). Sebagai implikasinya ,ia enggan menerima hadis yang muallaq dan mauquf .
8. Kriteria Hadis
Imam Muslim dalam menyeleksi hadis-hadis yang dimasukkan ke dalam kitabnya.Ia mengategorikan hadis dalam tiga macam yaitu:
1. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perawi yang adil dan dhabit.
2. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perawi yang tidak diketahui keadaanya (mastur) dan kekuatan hafalannya sedang-sedang saja.
3. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perowi yang lemah hafalannya dan hadisnya ditinggalkan oleh para ulama'.
9. Subtansi kitab Sahih Muslim
Subtansi kitab Sahih Muslim terdiri dari dua bagian yaitu :
a. Muqoddimah
Kitab Al-Jami' As-sahih yang disusun oleh Imam Muslim diawali oleh mukaddimah yang bernilai tinggi dan bermanfaat. Dalam mukaddimahnya beliau menjelskan haramnya berdusta atas nama Rasulullah, Anjuran agar berhati-hati dalam meriwayatkan, keadaan para perawi dan menerangkan illat hadis, larangan meriwayatkan hadis dari perawi yang lemah dan banyak salahnya, pembagian dan macam-macam hadis, dan hadis-hadis yang ditulis dalam sahihnya. Juga menerangkan bahwa sanad hadis itu adalah bagian dari ketentuan agama, dan menjelaskan panjang lebar tentang berhujjah dengan hadis mu'an'an. Itulah di antara manfaat yang terkandung dalam mukaddimah sahih Muslim.
b. Isi Hadis
Untuk Mengetahui isi dan sistematika Sahih Muslim secara rinci, di bawah ini dikemukakan susunanannya, yaitu :
1. Kitab tentang iman.
2. Kitab tentang taharah.
3. kitab tentang haid.
4. Kitab tentang solat.
5. Kitab tentang masjid.
6. Kitab tentang solat para musafir.
7. Kitab tentang solat jumat.
8. Kitab tentang dua hari raya.
9. Kitab tentang salat istisqo'.
10. Kitab tentang gerhana matahari dan gerhana bulan.
11. Kitab tentang solat jenazah.
12. Kitab tentrang zakat.
13. Kitab tentang puasa.
14. Kitab tentang iktikaf .
15. Kitab tentang haji.
16. Kitab tentang pernikahan.
17. Kitab tentang (penyusuan).
18. Kitab tentang perceraian.
19. Kitab tentang sumpah li'an.
20. Kitab tentang pemerdekaan budak.
21. Kitab tentang jual beli.
22. Kitab tentang akad penyiraman tanaman ( al-musaqah ).
23. Kitab tentang waris-mewarisi.
24. Kitab tentang hibah.
25. Kitab Tentang wasiat.
26. Kitab tentang nazar.
27. Kitab tentang sumpah.
28. Kitab tentang qisos dan diat.
29. Kitab tentang hudud.
30. Kitab tentang al-aqdiyah ( pemutusan perkara ).
31. Kitab tentang barang temuan.
32. Kitab tentang jihad.
33. Kitab tentang kepemimpinan.
34. Kitab tentang perburuan dan sembelihan.
35. Kitab tentang hewan kurban.
36. Kitab tentang minuman.
37. Kitab tentang pakaiaan.
38. Kitab tentang adab.
39. Kitab tentang akad pesanan ( as-salam ).
40. Kitab tentang lafal-lafal adab dan sejenisnya.
41. Kitab tentang syair.
42. Kitab tentang mimpi (ar-ru'ya).
43. Kitab tentang keutamaan.
44. Kitab tentang keutamaan Sahabat.
45. Kitab tentang kebaikan dan menyambung persaudaraan.
46. Kitab tentang qadar.
47. Kitab tentang ilmu.
48. Kitab tentang zikir, do'a, tobat, istigfar.
49. Kitab tentang tobat.
50. KItab tentang sifat orang-orang munafik.
51. Kitab tentang surga.
52. Kitab tentang fitnah-fitnah dan tanda-tanda kiamat.
53. Kitab tentang kezuhudan.
54. Kitab tentang tafsir.
D. Kelebihan dan Kelemahan Hadis
Beberapa kelebihan kita Sahih Muslim dalah :
a. Susunan isinya sangat tertib dan sistematis.
b. Pemilihan redaksi (matan) hadisnya sangat teliti dan cermat
c. Seleksi dan akumulasi sanadnya dijalankan dangan seksama tidak tertukar-tukar, serta tidak lebih dan tidak kurang.
d. Meanempatkan hadis ke dalam tema tertentu dengan baik, sehingga sedikit sekali terjadi pengulangan.
Setelah kita ketahui beberapa kelebihan dari kita Sahih Muslim, ada beberapa juga kelemahan dari kitab Sahih Muslim, diantaranya :
a. Kesahihan hadis yang dipakai Imam Muslim lebih longgar.
b. Imam Muslim tidak mensyaratkan adanya pertemuan antara guru dan murid bagi perawi hadis dalam kitabnya. Tetapi beliau hanya mensyaratkan bahwa guru dan murid yang meriwatkan hadis tersebut pernah hidup dalam satu masa, maka riwayatnya sah.
E. Komentar Ulama' Tentang Sahih Muslim
Beberapa komentar ulama' tentang kitah sahih Muslim ini ada yang memberikan sanjungan atau pujian ada juga yang mengkritik kelemahan kitab ini. Di antara ulama' yang berkomentar tentang kitab Sahih Muslim yaitu :
1. Makki bin Abdain dari Naisabur, beliau diperlihatkan kitab Sahih Muslim kemudian beliau memvonis bahwa ada sebuah hadis yang lemah, maka Imam Muslim segera meninggalkan hadis itu.
2. Imam ad-Daruqutni memberikan sanjungan, '' Seandainya tidak ada Imam Bukhori dan Imam Muslim, tentu pembahasan hadis tidak akan muncul."
3. Menurut sebuah penelitian, salah satu hadis dalam Sahih Muslim adalah maqlub (terbalik). Misalnya, hadis riwayat Abu Hurairah berikut:
"ورجل تصدق بصدقة فاخفاها حتى لاتعلم يمينه ما تنفق شماله"
" Seseorang yang menyedekahkan sesuatu dengan cara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kanannya seolah tidak mengetahui apa yang telah diinfaqkan oleh tangan kirinya ".
DAFTAR PUSTAKA
Dzulmani, 2008. Mengenal kitab-kitab Hadis.Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.
Khumaidi, Irham, 2008. Ilmu Hadis untuk Pemula. Jakarta Barat: CV Artha Rivera.
Rahman, Fathur. cet ke-1. 1974. Ikhtisar musthplah Hadis. Bandung: PT Al- Ma'arif .
Soleh, Komaruddin. 2009. Mangenal Sahih Muslim. Diambil pada tanggal 02 Januari 2009. (http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298)
Dan (http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=171)
Diposkan oleh Joko adi yulianto di 02.06
Reaksi:
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest
ANALISIS KITAB SHAHIH BUKHARI
Posted on 19.16 by Muhammad Ghifari
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an sebagai kalamullah adalah sumber hukum tertinggi umat Islam. Meskipun demikian tanpa pelengkap kalamullah tersebut belum mampu untuk dipahami, dicerna ataupun diamalkan. Dengan kata lain Al-Qur’an belumlah sempurna tanpa bantuan Al-Hadits sebagai salah satu pelengkapnya.
Jika melihat pada literatur sejarah, kodifikasi Hadis mengalami rentetan peristiwa yang cukup panjang. Saat menyadari kemustahilan untuk melestarikan Hadis dengan hafalan, beberapa ulama Hadis mulai menuliskan apa yang dia hafal. Setelah penulisan dan pembukuan Hadis diizinkan secara resmi pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, ulama-ulama tersebut mengumpulkan apa yang dia tulis dan membukukannya. Di antaranya nama-nama yang tidak asing di telinga kita seperti Imam Malik dengan "Muwattha'"-nya, Imam Muslim, dan berikut sosok ulama Hadis yang akan kita bahas dalam makalah kali ini, Imam Bukhari dengan kitab Shahih al-Bukharinya.
Sebagai pengenalan, dalam makalah ini penulis sedikit mengulas secara singkat tentang biografi beliau, sejarah kitab miliknya beserta metodologi yang beliau pakai dalam pembukuan Hadis. Ini semua adalah hal-hal yang cukup penting untuk diketahui sebelum kita tenggelam lebih dalam saat membaca kitab Shahih Bukhari ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang menjadi acuan pembahasan dalam makalah ini , yaitu:
1. Bagaimanakah biografi Imam Bukhari ?
2. Bagaimanakah sejarah dan latar belakang penulisan kitab Shahih Bukhari ?
3. Bagaimana metodologi penulisan kitab hadits shahih Bukhari ?
4. Kitab-kitab apakah yang mensyarah Sahih Bukhari ?
5. Bagaimana Penilaian Ulama Terhahadap Kitab Shahih Bukhari ?
6. Apa kelebihan dan kekurangan kitab Shahih Bukhari ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Imam Bukhari
Imam Bukhari adalah seorang tokoh yang terkenal dengan kehebatanya dalam bidang hadits, sehinga apabila sebua hadits sebagai “riwayat Imām Bukhārī”, seolah mengindikasikan bahwa hadits itu tidak perlu ditinjau lagi keshahihannya.
Nama lengkap Imam Bukhari adalah Abū ‘ Abdullāh Muḥammād bin’ Ismāil bin Ibrahīm bin al-Mugīrah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhārī. Beliau lebih dikenal dengan nama al-Bukhari, hal ini disandarkan pada tempat kelahirannya yakni Bukhārā. Ia dilahirkan pada hari jumat, 13 Syawwāl 194 H (21 Juli 810 M) di Bukhara. Ia mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 30 Ramaḍān 256 H (31 Agustus 870 M) diusianya yang ke 62 tahun.[1]
Bukhari memiliki daya hapal tinggih sebagaimana yang diakui kakanya, Rāsyīd bin ‘Ismaīl. Sosok Bukhari kurus, tidak tinggih, tidak pendek, kulit agak kecoklatan, ramah, dermawan, dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan.[2]
Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab ats-Tsiqāt, Ibnu Ḥibbān menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan murid dari Imām Mālik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Disaat usianya belum mencapai sepuluh tahun, Imam Bukhari telah mulai belajar hadits dan sudah melakukan pengembaraan ke Balkha, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Jadi, tidaklah mengherankan apabila pada usianya yang belum genap 16 tahun ia tela berhasil menghafal matan sekalius perawi hadits dari beberapa kitab karangan Ibnu Mubarak dan Waqi’[3].
Tidak semua hadits yang beliau hafalkan kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah rawi (periwayat/pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqah (kuat). Menurut Ibnū Hajār al-Asqalānī, Bukhari menulis sebanyak 9.082 hadits dalam karya monumentalnya, al-Jami’ as-Ṣaḥiḥ yang dikenal dengan sebagai shahih bukhari.
Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para rawi, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang dilontarkan kepada rawi juga cukup halus, namun tajam. Kepada rawi yang sudah jelas kebohongannya, ia berkata, “perlu dipertimbankan”, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri hal itu.” Sementara kepada rawi yang haditnya tidak jelas, ia menyataka, “Haditsnya diingkari.” Bahkan, banyak meninggalkan rawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata, “saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadit-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan rawi, yang dalam pandangan saya perlu dipertbangkan”.
Banyak ulama atau rawi yang ditemui sehinggah Imam Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebua hadits, mengecek keakuratan sebuah hadits, ia berkali-berkali mendatangi ulama atau rawi meskipun berada di kota atau negeri yang jauh.
Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Ẓuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
1. Guru-guru beliau
Perjalanan panjangnya kebeberapa daerah tersebut memungkinkannya untuk menemui beberapa ulama yang kemudian dijadikan guru dalam berbagai disiplin ilmu, utamanya dalam bidang hadts. Diantara beberapa ulama yang kemudian menjadi gurunya ialah:
a. Abū 'Aṣim An-Nabīl
b. Makkī bin Ibrahīm
c. Muḥammād bin 'Īsā bin Aṭ-Ṭabba'
d. ‘Ubaidullāh bin Mūsā
e. Muḥammād bin Salām Al-Baikandi
f. Aḥmād bin Ḥambāl
g. Isḥāq bin Manṣūr
h. Khallād bin Yaḥyā bin Ṣafwan
i. Ayyūb bin Sulaimān bin Bilāl
j. Aḥmād bin Isykāb[4]
Dan masih banyak lagi
2. Murid-murid beliau
Beliau memiliki murid yang banyak dari setiap penjuru, namun yang dianggap paling populer adalah :
a. Al-Imām Abū al-Ḥusain Muslīm bin al-Hajjāj an-Naisaburi (204-261), penulis kitab Ṣaḥīh Muslīm yang terkenal
b. Al-Imām Abū 'Īsā At-Tirmīżi (210-279) penulis buku sunan At-Tirmīżi yang terkenal
c. Al-Imām Ṣalīh bin Muḥammād (205-293)
d. Al-Imām Abū Bakār bin Muḥammād bin Isḥāq bin Khuẓaimah (223-311), penulis buku Ṣaḥīh Ibnū Khuẓaimah.
e. Al-Imām Abū Al-Faḍl Aḥmād bin Salamāh An-Naisaburi (286), teman dekat Imām Muslīm, dan dia juga memiliki buku shahih seperti buku Imām Muslīm.
f. Al-Imām Muḥammād bin Naṣr Al-Marwāzi (202-294)
g. Al-Ḥāfiẓ Abū Bakār bin Abī Dāwud Sulaimān bin Al-Asy'ats (230-316)
h. Al-Ḥāfizh Abū Al-Qāsim ‘Abdullāh bin Muḥammād bin ‘Abdul 'Aziz Al- Bagāwi (214-317)
i. Al-Ḥāfiẓ Abū Al-Qāḍi Abū ‘Abdillāh Al-Ḥusain bin ‘Isma'il Al-Maḥāmili (235-330)
j. Al-Imām Abū Isḥāq Ibrahīm bin Ma'qīl al-Nasafi (290)
k. Al-Imām Abū Muḥammād Ḥammād bin Syakir al-Naswī (311)
l. Al-Imām Abū ‘Abdillāh Muḥammād bin Yūsuf bin Maṭār al-Firabri (231-320)[5]
3. Karya-karya beliau
a. Al-Jāmi' al-Ṣaḥīh (Ṣaḥīh Bukhāri)
b. Al-Adāb al-Mufrād.
c. At-Tarīkh al-Ṣagīr.
d. At-Tarīkh al-Awsaṭ.
e. At-Tarīkh al-Kabīr.
f. At-Tafsīr al-Kabīr.
g. Al-Musnād al-Kabīr.
h. Kitāb al-'Ilāl.
i. Raf'ūl Yadain fī al-Ṣalāḥ.
j. Birru al-Wālidain.
k. Kitāb al-Asyribah.
l. Al-Qirā`ah Khalfa al-Imām.
m. Kitāb al-Ḍu'āfa.
n. Usami al-Ṣaḥābah.
o. Kitāb al-Kuna.
p. Al-Ḥbbah
q. Al-Wiḥdān
r. Al-Fawa`id
s. Qaḍāya al-Ṣaḥābah wa al-Tabī'in
t. Masyīkhah[6]
B. Sejarah dan latar belakang penulisan kitab Shahih Bukhari
Imam al-Bukhari memberi nama kitabnya Al-Jāmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtṣar min umūri rasūlillāhi ṣallallāhu alahi wa sallām. Pemberian nama al-Jāmi’ menunjukan bahwa kitab sahih ini tidak hanya menghimpun hadis-hadis dalam satu bidang keagamaan, tetapi banyak bidang keagamaan. Di samping itu penggunaan kata al-musnād al-ṣahīh mengindikasikan bahwa hadis-hadis di dalam kitab shahih ini adalah hadis-hadis yang memiliki sandaran yang kuat.
Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits, tampaknya Imam Bukhari tidak begitu saja membukukan hadits-hadits nabawi. Ada beberapa faktor yang mendorong untuk menulis kitab itu, yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau berangkat dari kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-Qur'an. Sementara faktor-faktor itu ialah:
1. Belum adanya kitab hadis yang khusus memuat hadis-hadis sahih yang mencakup berbagai bidang dan masalah.
Pada akhir masa tabiin di saat ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri, hadis-hadis Nabi sudah mulai di bukukan, orang pertama yang melakukan ini adalah al-Rabi’ bin Ṣabīh (w. 160 H), Saīd bin Abū Arubah (w. 156 H), yang mana metode penulisan mereka terbatas pada hal-hal tertentu saja, sampai pada akhirnya ulama berikutnya menulis hadis lebih lengkap, mereka menulis hadis-hadis hukum yang cukup luas meskipun tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabiin, dan tabi’ut al-tabiin, seperti: Imām Mālik, Ibnū Juraiz dan al-Auzai.
Kemudian pada abad ke dua ulama mulai menulis hadis secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa-fatwa sahabat maupun tabiin, metode penulisannya berbentuk musnad dimana disebutkan terlebih dahulu nama sahabat kemudian hadis-hadis yang diriwayatkan. Ada pula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abū Bakār Syaibah. Namun demikian, kitab-kitab tersebut masih bercampur antara yang sahih, hasan dan daif.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Bukhari atas inisiatifnya dalam mengumpulkan hadis-hadis yang sahih saja yang tercover dalam al-Jāmi’ al-Ṣahīh.
2. Dorongan sang guru
Terdorong atas saran salah seorang guru beliau yakni Isḥāq bin Rahawaih, Imam al-Bukhari mengatakan” ketika aku berada di kediaman Ishaq, beliau menyarankan agar aku menulis kitab yang singkat yang hanya memuat hadis-hadis sahih Rasulullah saw. Imam al-bukhari menjelaskan hubungan antara permintaan gurunya dan penyusunan kitab Sahihnya:
فوقع في قلبي في جمع الجامع الصحيح
“Maka terbesit dalam hatiku, maka mulai saya mengumpulkan al-Jami’ al-Shahih”[7]
3. Dorongan hati
Diriwayatkan Muḥammād bin Sulaimān bin Faris, Bukhari berkata” aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. aku berdiri di hadapannya sambil mengipasinya kemudian aku datang pada ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan maksud dari mimpi itu”, ahli ta’bir itu mengatakan bahwa “anda akan membersihkan kebohongan-kebohongan yang dilontarkan pada Rasulullah saw.[8]
Dan untuk ini, imam al-Bukhari mencari karya-karya pada masanya dan sebelumnya guna memilah dan memilih hadis yanng sahih penyandarannya kepada Rasulullah saw.
C. Metodologi Dan Sistematika Penulisan Kitab Shahih Bukhari
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imām Aḥmād, Imām Muslīm, Abū Dāwud, Tirmīżi, An-Nasai, dan Ibnu Mājah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Dengan usaha kerasnya dalam mengumpulkan dan meneliti hadits guna memastikan keshahihannya, akhirnya tersusunlah sebua kitab hadits sebagaimana yang dikenal pada saat ini. Usaha kerasnya ini tergambar dalam sebua pernyataan Imam Bukhari sendiri, “Aku menyesun kitab Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih ini selama 16 tahun. Ia merupakan hasil seleksi dari 600.000 buah hadits.[9]
Untuk memastikan keshahihan sebua hadits dalam menyusun kitab ini, Imam bukhari tidak hanya berusah secara fisik, tetapi juga melibatkan nonfisik. Salah seorang muridnya yang bernama al-Firbari menyatakan bahwa ia pernah mendengar Imam Bukhari berkata, “Aku menyusun al-Jami’ al-Musnad as-Shahih ini di Masjidil Haram. Aku tidak memasukkan sebua hadits pun kedalam kitab itu sebelum aku shalat istikhara dua rakaat. Setelah itu, aku baru betul-betul merasa yakin bahwa hadits tersebut adalah hadits shahih.”[10]
Kitab hadits karya Imam Bukhari disusun dengan pembagian beberapa judul. Judul-judul tersebut dikenal dengan istilah “Kitāb”. Jumlah judul (kitab) yang terdapat di dalamnya adalah 97 kitab. Setiap kitab dibagi menjadi beberapa subjudul yang dikenal dengan istilah “bab”. Jumlah total babnya adalah 4550 bab, yang dimulai dengan kitab bad’u al-waḥy, dan disusul dengan kitāb al-Imān, kitāb al-‘Ilm, kitāb al-Wadu’, dan sterunya.
Ibnu Ṣalāḥ dalam mukaddimahnya menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam Shahih al-Bukhari sebanyak dalam muqaddimah-nya menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam Shahih al-Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutkan secarah berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Muḥyiddīn an-Nawawi dalam kitabnya at-Taqrīb.
Selain pendapat diatas, Ibnu Hajar dalam muqaddimah-nya Fatḥul Bārī, syaraḥ Ṣaḥīh al-Bukhāri, menjelaskan bahwa jumlah hadists Shahih dalam Shahih al-Bukhari yang sanadnya bersambung (mauṣūl) adalah 2.602 hadits tanpa pengulangan. Adapun jumlah hadits yang sanadnya tidak diwasalkan (tidak disebutkan secarah bersambung) adalah 159 hadits. Semua hadits dalam Shahih al-Bukhari, termasuk hadits yang disebut secara berulang, adalah sebanyak 7.397 hadits. Jumlah ini diluar hadits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dan tabiin dan ulama-ulama sesudahnya.
Berikut ini kami sajikan kitab-kitab (judul-judul) yang terkandung dalam Ṣhaḥiḥ al-Bukhārī.
1. Kitab tentang permulaan turunnya wahyu
2. Kiyab tentang iman
3. Kitab tentang ilmu
4. Kitab tentang wudhu
5. Kitab tentang mandi
6. Kitab tentang haid
7. Kitab tentang tayammum
8. Kitab tentang shalat
9. Kitab tentang waktu-waktu shalat
10. Kitab tentang azan
11. Kitab tentang shalat jumat
12. Kitab tentang jenazah
13. Kitab tentang zakat
14. Kitab tentang haji
15. Kitab tentang puasa
16. Kitab tentang shalat tarwih
17. Kitab tentang i’tikaf
18. Kitab tentang jual beli
19. Kitab tentang akad pesanan (salam)
20. Kitab Syuf’ah (hak membeli terlebih dahulu)
21. Kitab tentang sewa-menyewa
22. Kitab tentang pengalihan utang
23. Kitab tentang perwakilan
24. Kiab tentang perkongsian dalam pertanian
25. Kitab tentang perkongsian dalam penyiraman tanaman (al-Musāqah)
26. Kitab tentang utang-piutang
27. Kitab tentang perselisishan
28. Kitab tentang barang temuan
29. Kitab tentang kezaliman dan gasab
30. Kitab tentang kongsi
31. Kitab tentang gadai
32. Kitab tentang memerdekakan budak
33. Kitab tentang hibah
34. Kitab tentang persaksian
35. Kitab tentang perdamaian
36. Kitab tentang syarat-syarat
37. Kitab tentang wasiat
38. Kitab tentang jihad
39. Kitab tentang mendapat bagian seperlima
40. Kitab tentang jizyah (pajak)
41. Kitab tentang permulaan pencipaan mahkluk
42. Kitab tentang para nabi
43. Kitab tentang manakib (biografi)
44. Kitab tentang peperangan
45. Kitab tentang tafsir al-Quran
46. Kitab tentang keutamaan al-Quran
47. Kitab tentang pernikahan
48. Kitab tentang perceraian
49. Kitab tentang nafkah
50. Kitab tentang makanan
51. Kitab tentang akikah
52. Kitab tentang sembelihan dan perburuan hewan
53. Kitab tentang kurban
54. Kita tentang minuman
55. Kitab tentang orang sakit
56. Kitab tentang pengobatan
57. Kitab tentang busana
58. Kitab tentang adab
59. Kitab tentang meminta izin
60. Kitab tentang doa-doa
61. Kitab ar-Riqāq (pelbagai hal yang melembutkan hati)
62. Kitab tentang takdir
63. Kitab tentang sumpah dan nazar
64. Kitab tentang tebusan sumpah
65. Kitab tentang waris
66. Kitab tentang hudud
67. Kitab tentan denda
68. Kitab tentang taubat orang-orang yang murtad dan membangkan
69. Kitab tentang pemaksaan
70. Kitab tentang ḥilah (rekayasa hukum)
71. Kitab tentang mimpi
72. Kitab tentang fitnah
73. Kitab tentang hukum-hukum
74. Kitab tentang at-Tamannī (harapan)
75. Kitab tentang khabar dari satu perawi
76. Kitab tentang berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah
77. Kitab tentang tauhid
Perlu diketahui bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari ada sejulah hadits yang tidak dimuat dalam bab. Ada juga sejumlah bab yang berisi banyak hadits, tetapi ada pula yang hanya berisi segelintir hadits. Di tempat terpisah, ada pula bab yang hanya berisi ayat-ayat al-Quran tanpa disertai hadits, bahkan ada pula yang kosong tanpa isi hadits.
Imam al-Bukhari tidak menjelaskan kriteria kritik hadisnya, tetapi para ulama melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang ada di dalam kitab shahih dan menyimpulkan bahwa kriteria yang digunakannya sangat ketat. Imam al-Bukhari menggunakan kriteria kesahihan hadis seperti ittishal sanad, ‘adalah, ḍabit, terhindar dari syāż dan ‘illāt. Tetapi, untuk ittishal sanad imam Bukhari menggunakan kriteria dapat dipastikan liqa’ dan mu’asharah. Di samping itu, rawi-rawi dari kalangan murid al-Zhuhri yang digunakan adalah rawi-rawi yang fāqih, artinya rawi-rawi yang memiliki ‘adalah dan dhabit dan lama menyertai Imam al-Zhuhri.
Metode dan sistematika penulisannya adalah :
1. Mengulangi Hadis jika diperlukan dan memasukkan ayat-ayat Al-Quran;
2. Memasukkan fatwa sahabat dan tabi’in sebagai penjelas terhadap Hadis yang ia kemukakan;
3. Menta’liqkan (menghilangkan sanad) pada Hadis yang diulang karena pada tempat lain sudah ada sanadnya yang bersambung;
4. Menerapkan prinsip-prinsip al-jarḥ wa at-ta’dīl;
5. Mempergunakan berbagai sigat tahammul;
6. Disusun berdasar tertib fiqih.
Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah:
1. Memulainya dengan menerangkan wahyu, karena ia adalah dasar segala syari’at;
2. Kitabnya tersusun dari berbagai tema;
3. Setiap tema berisi topik-topik ;
4. Pengulangan Hadis disesuaikan dengan topik yang dikehendaki tatkala mengistinbatkan hukum.
D. Kitab-kitab Syarah Sahih Bukhari
Sejumlah ulama telah menulis kitab-kitab syarah terhadap kitab-kitab Hadis standard, termasuk kitab syarah terhadap Sahih al-Bukhari. Al-‘Azami menyebutkan bahwa ratusan kitab syarah telah ditulis, bahkan ada di antaranya yang mencapai lebih dari 25 jilid.
Diantara kitab syarah dari Sahih Bukhari ini, maka yang terbaik menurut Al-‘Azami adalah:
1. Kitāb Fatḥ al-Bāriy fī Syarh Ṣahīh al-Bukhāri, oleh Ibnu Hajār al-Asqalānī (773-852 H). Kitab ini terdiri dari 13 jilid ditambah satu jilid Muqaddimah-nya;
2. Kitāb ‘Umdat al-Qāri, oleh Badr al-Dīn Maḥmūd Ibn Aḥmād Ibn Mūsā al-Qahiri al-‘Aini al-Ḥanafi (762-885 H).
3. Kitāb Irsyād al-Sair, oleh Qasṭallanī (w. 923 H).
E. Penilaian Ulama terhadap Sahih Bukhari
Telah menjadi kesepakatan ulama dan umat Islam bahwa kitab Sahih al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan menduduki tempat terhormat setelah Alquran. Diantara para ulama yang mengemukakan demikian adalah Ibnu Ṣalāḥ, beliau mengemukakan, kitab yang paling otentik sesudah Al-Quran adalah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Akan tetapi sebahagian kecil dari ulama, seperti Abū ‘Ali al-Naisaburi, Abū Muḥammād ibn Hazm al-Zahiri dan sebahagian ulama Maghribi mengunggulkan Sahih Muslim daripada Sahih Bukhari, yaitu alasan keunggulan Sahih Bukhari dari Sahih Muslim adalah pada keunggulan pribadi Imam Bukhari dari Imam Muslim, dan ketaatan Bukhari dalam memilih perawi dari pada muslim. Sementara alasan keunggulan Sahih Muslim daripada Sahih Bukhari lebih difokuskan kepada metode dan sistematika penyusunannya, dimana Sahih Muslim lebih baik dan lebih teratur sistematikanya dibandingkan Sahih Bukhari.
Meskipun dinilai paling otentik setelah Alqur’an dan menduduki tempat terhormat, kitab Sahih Bukhari tetaplah buah karya manusia yang tidak pernah luput dari kritik. Sahih Bukhari mendapat kritik, baik dari segi sanad maupun matannya, baik dikalangan ulama sendiri maupun orang non Muslim.
Daruqutni dan Abū ‘Ali al-Gassāni dari ulama masa lalu, menilai bahwa sebagian Hadis-hadis Bukhari adalah da’if karena adanya sanad yang terputus dan dinilai dari segi ilmu Hadis sangat lunak. Daruquthni dalam kitabnya Al-Istidarakat mengkritik ada 200 buah Hadis dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Menurut Imam Nawawi kritikan itu barawal dari tuduhan bahwa dalam Hadis-hadis tersebut Bukhari tidak menepati dan memenuhi persyaratan yang ia tetapkan. Kritik Daruqutni berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sejumlah ahli Hadis yang justru dinilai dari segi ilmu Hadis sangat lunak, karena berlawanan dengan kriteria jumhur ulama. Sementara Daruqutni menyoroti sanad dalam arti rangkaian perawi Hadis, para ahli lain menyoroti pribadi perawinya. Dari kajian tentang sanad, Daruqutni mendapatkan adanya sanad yang terputus, karenanya Hadis itu dinilai da’if. Namun, Setelah diteliti ternyata Hadis yang dituduh Mursal itu terdapat diriwayat lain, sementara riwayat yang terdapat dalam Sahih Bukhari tidak terputus. Pencantuman sanad yang mursal itu dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh penulis Hadis lain dengan sanad yang lain juga. Periwayatan semacam ini dalam ilmu Hadis disebut Ḥadīṣ syahīd atau Ḥadīṣ muttabi’.
Sebagian ahli Hadis lain berpendapat ada beberapa perawi dalam Sahih ini tidak memenuhi syarat untuk diterima Hadisnya. Ibn Hajar membantah pendapat ini, tidak dapat diterima kecuali perawi-perawi itu terbukti jelas mempunyai sifat-sifat atau hal-hal yang yang menyebabkan Hadisnya ditolak. Setelah diteliti ternyata tidak ada satu perawi pun yang mempunyai sifat-sifat dan perbuatan seperti itu. Syeikh Aḥmād Syakir berkomentar, seluruh Hadis Bukhari adalah sahih. Kritik Daruqutni dan lainnya hanya karena beberapa Hadis yang ada tidak memenuhi persyaratan mereka. Namun, apabila Hadis-hadis itu dikembalikan kepada persyaratan ahli Hadis pada umumnya, semuanya sahih[11].
Selain pendapat tersebut di atas, kaum orientalis, seperti Ignaz Goldziher, A.J. Wensik dan Maurice Bucaille, turut juga mengajukan kritik, yang kemudian dikenal dengan kritik matan Hadis. Menurut mereka, para ahli Hadis terdahulu hanya mengkritik Hadis dari sanad atau perawi saja, sehingga banyak Hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari yang kemudian hari ternyata tidak sahih ditinjau dari segi sosial, politik, sains dan lain-lain. Di antara Hadis yang dikritik itu adalah Hadis yang berasal dari al-Zuhri, bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “ tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga mesjid, yaitu Mesjid al-Haram, Mesjid Rasul, dan Mesjid al-Aqsa”. Hadis ini menurut Goldziher adalah Hadis palsu yang sengaja dibuat al-Zuhri untuk kepentingan politik semata. Sedangkan Hadis tentang “lalat masuk air minum”, “demam berasal dari neraka”, dan “perkembangan embrio” dikritik Maurice Bucaille karena isinya bertentangan dengan sains.
Ulama kontemporer, seperti Aḥmād Amin dan Muḥammād al-Ghazali, juga mengajukan kritik terhadap Hadis Bukhari. Aḥmād Amin mengatakan, meskipun Bukhari tinggi reputasinya dan cermat pemikirannya, tetapi dia masih menetapkan Hadis-hadis yang tidak sahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiah, karena penelitiannya terbatas pada kritik sanad saja. Di antara Hadis yang dikritiknya adalah tentang “ seratus tahun lagi tidak ada orang yang masih hidup di atas bumi”. Dan “ Barang siapa makan tujuh kurma ajwah setiap hari, ia akan selamat dari racun maupun sihir pada hari itu sampai malam”.
Muḥammad al-Ghazali menyatakan apabila suatu Hadis bertentangan dengan sains, Hadis itu harus ditolak meskipun ia terdapat dalam sahih Bukhari, sebab menurutnya, Imam Bukhari itu bukan seorang yang ma’sum. Seperti Hadis tentang “Seandainya tidak ada Bani Israil, makanan dan daging tidak akan busuk” adalah Hadis da’if karena tidak sesuai dengan sains.
Kritik-kritik dari kaum orientalis dan ulama kontemporer tersebut telah mendorong lahirnya para pembela Imam Bukhari untuk menyanggah kritik-kritikan tersebut seperti Muḥammad Mustafa ‘Azami dan Mustafa al-Siba’i dengan sanggahan itu membuat semakin menambah kualitas Sahih al-Bukhari dan mendorong munculnya ulama Hadis sesudah al-Bukhari untuk membuat syarah maupun ikhtisar kitab Sahih ini, dan membuat jawaban yang lebih luas dan mendalam terhadap kritik-kritik ini[12].
F. Kelebihan Dan Kekurangan Kitab Shahih Bukhari
Kitab Shahih Bukhori adalah kitab hadis yang paling shahih,pendapat ini disetujui oleh mayoritas ulama’hadis.Meskipun termasuk kitab hadis yang paling shahih, kitab ini tidak luput dari kekurangan.Tapi kelemahan ini bisa ditutupi oleh kelebihannya.Dibawah ini akan dikemukakan kelebihan dsan kekurangan dari kitab shahih bukhari.
1. Kelebihan Shahih Bukhari
Banyak Sekali kelebihan dari kitab Shahih Bukhari,diantaranya:
a. Terdapat pengambila hukum fiqih
b. Perawinya lebih terpecaya
c. Memuat beberapa hikmah
d. Banyak memberikan faedah,manfaat dan pengetahuan
e. Hadis-hadis dalam Shahih Bukhori terjamin keshahihannya karena Imam Bukhari mensyaratkan perowi haruslah sejaman dan mendengar langsung dari rawi yang diambil hadis darinya.
Difahamkan dalam perkataannya Al-Musnad bahwa Al-Bukhari tidak memasukkan kedalam kitabnya selain dari pada hadis-hadis yang bersambung-sambung sanadnya melalui para sahabat sampai kepada Rasul, baik perkataan, perbuatan, ataupun taqrir. Al-Bukhari tidak saja mengharuskan perawi semasa dengan Marwi ‘Anhu (orang yang diriwayatkan hadis dari padanya) bahkan Al-Bukhari mengharuskan ad perjumpaan antara kedua mereka walaupun sekali. Karena inilah para ulama mengatakan bahwa Al-Bukhari mempunyai dua syarat: Syarat mu’asarah: semasa dan syarat liqa’ : ada perjumpaan.
Maka dengan berkumpul syarat-syarat ini, para imam hadis menilai shahih Al-Bukhari dengan kitab yang paling shahih dalam bidang hadis. Bahkan dia dipandang kitab yang paling shahih sesudah Al-Quran dan dipandang bahwa segala haids yang muttassil lagi marfu’, yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, shahih adanya.[13]
2. Kelemahan Shahih Bukhari
Kitab Shahih Bukhari memuat hadis Aisyah mengenai kasus tersihirnya Nabi yang dilakukan oleh Labib bin A’syam. Menerima hadis tentang tersihirnya Nabi jelas membahayakan prinsip kemaksuman Nabi. Selain itu, dengan menerima hadis tersebut berarti kita ikut membenarkan tuduhan orang-orang kafir bahwa beliau adalah seorang Nabi yang terkena pengaruh sihir, padahal tuduhan tersebut telah disanggah oleh Allah swt.
Adapun kekurangan yang lain dari kitab shahih bukhari yaitu bahwa kitab Shahih Bukhori tidak memuat semua hadis shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhori.[14]
BAB III
PENUTUP
Imam Bukhori adalah Imam Muhaddisin yang sangat berjasa Dalam pengumpulan hadist. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah bin Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al- Mughiroh bin Bardizbah al-Ju'fi . Beliau di lahirkan pada hari jumat ,13 syswal 194 H di Bukhoro . Beliau wafat pada tanggal 30 Ramadhan 256 H di usiannya ke 62 tahun.
Sejarah dan latar belakang penulisan kitab Shahih Bukhari ada tiga yaitu: Pertama: Belum adanya kitab hadis yang khusus memuat hadis-hadis sahih yang mencakup berbagai bidang dan masalah. Kedua: Dorongan sang guru dan yang Ketiga: Dorongan Hati.
Kitab hadits karya Imam Bukhari disusun dengan pembagian beberapa judul. Judul-judul tersebut dikenal dengan istilah “Kitāb”. Jumlah judul (kitab) yang terdapat di dalamnya adalah 97 kitab. Setiap kitab dibagi menjadi beberapa subjudul yang dikenal dengan istilah “bab”. Jumlah total babnya adalah 4550 bab, yang dimulai dengan kitab bad’u al-waḥy, dan disusul dengan kitāb al-Imān, kitāb al-‘Ilm, kitāb al-Wadu’, dan sterunya.
Telah menjadi kesepakatan ulama dan umat Islam bahwa kitab Sahih al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan menduduki tempat terhormat setelah Alquran. Diantara para ulama yang mengemukakan demikian adalah Ibnu Ṣalāḥ, beliau mengemukakan, kitab yang paling otentik sesudah Al-Quran adalah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Daftar Pustaka
Soetari, Edang Ilmu Hadits Kajian Riwayat & Dirayah (Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008)
Solahuddin, M & Suyadi, Agus Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2009)
Yuslem, Nawir Kitab Induk Hadis (Jakarta: Hijir Pustaka Utama, 2006)
Majid Khon, Abdul Ulumul Hadits (Jakarta: Amzah, 2010)
Azami, Studiesin Hadith Methodology and leterature, terj. Meth Kieraha, (Jakarta: Lentera, 2003)
Abu Syuhbah, Muhammad Fi Rihab al Sunnah al-Kitab al-Sahih al-Sittah (Kairo: al-Buhus al-Islamiyah, T. Th.)
Dzulmani, Mengenal Kitab-Kitab Hadits (Yogyakarta: Insan Madani, 2008)
Adib Salih, Muhammad Lamhat fi Usul al-Hadis (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1399 H)
Ash-Shiddieqy. Hasbi Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis Jilid I,
[1] Endang Soetari, Ilmu Hadits Kajian Riwayat & Dirayah (Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008), h. 280.
[2] M. Solahuddin & Agus Suyadi, Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 231.
[3] Nawir Yuslem, Kitab Induk Hadis (Jakarta: Hijir Pu
تعتبر قارة اسيا أكبر القارات الخمس, ويتجمع برها مع بعضه دون أن يسمح للبحر أن يتدخل فيه حاجزا مناطق داخلية بعيدة عن المياه, اذيزيد بعدها عن 2000 كم, كما تعتبر اسيا اكثر مناطق العالم نأيا عن البحر, وهذأ مايجعل الصفة القارية تغلب على جزء كبير من هذه القارة, ولكن هذا البر يلقى بثقله نحو المحيط فى الشرق فيقذف فيه عددا من الأرخبيلات يعتبر بعضها أكبر مجموعة من الجزر في العالم, ذلك هو الأرخبيل الإندونيسي.[1]
PASAL KELIMA
Perkembangan Bahasa Arab di Indonesia
A. Sekilas tentang Keadaan Geografis Indonesia
Benua Asia merupakan benua terbesar dari kelima benua yang ada. Daratannya berkumpul menjadi satu dengan yang lainnya, yang mana termasuk di dalamnya batas-batas daerah yang menjurus masuk jauh lebih dari 2000 km dari perairan, sebagaimana Asia dianggap memiliki wilayah terbanyak di dunia yang jauh dari laut, inilah yang menjadikan sifat kebenuaan mendominasi atas sebagian besar benua ini, akan tetapi sebagian daratannya terpisah kearah samudera di sebelah timur, di situ terdapat bilangan kepulauan yang sebagiannya dianggap kumpulan pulau terbesar di alam ini, itulah kepulauan Indonesia.
تقع إندونيسيا في الجنوب الشرقي من اسيا, بينها وبين أوقيانوسيا من جهة, وبين المحيطين الهندي والهادي من ناحية ثانية. وهي مكونة من عدة الجزر التى يزيد عددها عن 13677 جزيرة, منها 6044 جزيرة مأهولة بالسكان, والباقي منها لاتقيم عليه إلا عدد قليل من المواطنين المهاجرين, وبعضها كبير معروف وبعض اخر صغير مجهول بحيث لا يكاد معروفا حتى اسماءها. وتنتشر هده الجزر على مساحة شاسعة تزيدعن 12 مليون كايومتر مربع بين بر وبحر, وتمتد على طول 6000 كم بين الغرب والشرق وبين خطي طول 95 و 150 شرقا, وعلى طول اكثر من 2100 كم بين الشمال والجنوب بين خطي عرض 7 شمالا و 11 جنوبا. وتبلغ مساحة اليابس منها 2371419 كيلو متر ملربع اي اكبر من مساحة هولندة التي كانت احتلت اندونسيا و حكمتها ﺑ 67 مرة بحيث لا تزيد مساحتها عن 35 الف كيلو متر مربع. واكبر جزرها هي سومطرة, كليمانتن, سولاويسي, مالوكو, بلي, ايريان, وجاوة.
Indonesia terletak di wilayah Asia Tenggara, membentang satu arah dengan Oceania (kepulauan pasifik), di sisi lain terletak diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, yang terdiri lebih dari 13.677, 6044 pulau dihuni oleh penduduk, sisanya tidak berpenghuni atau dihuni oleh penduduk pendatang yang jumlahnya hanya sedikit. Sebagian pulau besar dikenal dan sebagian pulau lain yang kecil tidak dikenal dan hampir saja tidak diketahui namanya. Pulau-pulau ini tersebar sejauh 12.000.000 kilometer persegi antara darat dan laut, terbentang sejauh 6000 km antara barat dan timur 95ºBT - 150ºBT, dan lebih dari 2100 km antara utara dan selatan 6ºLU - 11ºLS luas daratan seluruhnya 2.371.419 km persegi atau lebih besar 68 kali dari luas daratan Belanda yang pernah menduduki Indonesia, yang hanya memiliki luas 30.000 km persegi. Pulau-pulau yang paling besar di Indonesia antara lain : Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Irian dan Jawa.
وتنقسم إندونيسيا إلى 27 محافظة, ثلاث محافظة خاصة وممتازة مثل: جاكرتا وجوكجاكلرتا وأتشية. وعاصمتها جاكرتا حيث تمركزت فيها الدوائر الحكومية والسفارات والقنصايات والوكالات والنشاطات والتجارية وغيرها.
Indonesia dibagi menjadi 27 propinsi, dan tiga daerah istimewa, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Aceh. Ibu Kota Indonesia adalah Jakarta, yaitu sebagai pusat pemerintahan, kedutaan, konsul, dewan perwakilan, kegiatan perdagangan dan lain sebagainya.
ب. دخول الإسلامية إلى إندونيسيا
الحديث عن تطورات اللغة العربية بإندونيسيا لابد من ارتباطها بتعاليم الإسلام, وتعاليم الإسلام لها علاقة متينة وارتباط وثيق باللغة العربية, فإذا كان الكلام منصبا ومرتكزا على اللغة العربية فينبغى أن يسبقه الإسلام بصفة عامة من حيث دخوله وانتشاره في أية بقعة من بقاع العالم لأن للغة العربية كما سبق علاقة قوية ومباشرة بالعربية حيث أن القران الكريم أثبت ذلك وأكدتة السنة النبيوية المطهرة. فمن المناسب أن يعرض الباحث فصل هذه الأطروحة مسبوقا بدخول الإسلام إلي إندونيسيا تعميما للنفع والفائدة.
B. Masuknya Islam di Indonesia
Sejarah tentang perkembangan bahasa Arab di Indonesia tidak terlepas dari ajaran-ajaran islam. Oleh sebab itu pembicaraan tentang penyebaran bahasa Arab di suatu tempat (Negara) di dunia ini maka terlebih dahulu membicarakan tentang kapan islam masuk dan tersebarnya di di tempat tersebut. Karena bahasa Arab memiliki hubungan yang kuat dan langsung dengan Arabisme karena al-Qur`an menyatakan demikian dan diperkuat oleh sunnah Nabi. Dari persesuaian itu peneliti ingin mengemukakan satu pasal tesis ini didahului dengan masuknya islam secara umum supaya bermanfaat dan berfaedah.
لدخول الإسلام جذور تاريخية وان كانت خافية إلا بعد انعقاد ندوة وطنية درست وبحثت دخول الإسلام إلى إندونيسيا على وجه التحديد التاريخي المستند من الوقائع والحقائق يقبلها جميع الفئات ليكون ذلك مادة تاريخية يتناولها الجميع.
Masuknya islam di Indonesia terdapat akar sejarah yang masih samar, kecuali setelah diadakan seminar Nasional yang membicarakan dan mengkaji masuknya islam di Indonesia, dari segi batas-batas sejarah yang bersandar pada realitas serta kenyataan yang diterima oleh semua golongan, supaya hal itu menjadi bahan sejarah yang dapat dicerna oleh semua golongan.
فعقدت الندوة في مدينة ميدان بسومطرة الشمالية في الفترة من 17 إلى 20 مارس 1963 حضرها نخبة من العلماء والمفكرين والصحفيين وقدرأس هذه الندوة الصحفي والمؤرخ الأستاذ محمد سعيد والأستاذ بحروم جميل. وانتهت الندوة – بعد البحث والدراسة والمداولة – إلى القراراة والنتائج التالية :[2]
Seminar diadakan di kota Medan, Sumatra Utara, mulai tanggal 17 sampai 20 maret 1963 yang dihadiri oleh para ulama`, cendikiawan, dan wartawan, yang memimpin acara seminar itu adalah Prof. Muhammad Said dan Prof. Bahrum Jamil. Seminar ini berakhir dengan melahirkan hasil dan keputusan, sebagai berikut :
1- إن الإسلام دخل إندونيسيا اول مرة في القرن الأول الهجري الذي وافق (القرنين السابع والثامن الميلادي) وجاء به إليها العرب ومن بلادهم مباشرة.
2- إن اولىٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍٍ منطقة دخلها الإسلام هي سواحل سومطرة الشمالية, وإنه بعد تكوين المجتمع الإسلامي وحصوله على النفوذ السياسي تأسست السلطنة الإسلامية, وكان فيها الملك المسلم الأول بمدينة أتشيه aceh, ولذا سميت بصالة مكة أي .serambi makkah
3- ساهم الإندونيسيونٍ بعد ذلك مساهمة فعالة في نشر الدعوة الإسلامية
4- كان من بين الدعاة الأولين تجر عرب.
5- نهجت الدعوة الإسلامية في إندونيسيا لوهلتها الأولى بطريقة سلمية وليست بالعنف – كما زعم أعداء الإسلام – من المستشرقين اليهود وغيرهم.
6- جاء الإسلام إلى إندزنيسيا بثقافة وحضارة راقية وهي تعد عنصرا هاما من عناصر تكوين الشخصية الإسلامية.
7- إنه من الضروري وجود هيتة تقوم بأعمل هامة كإعداد وتحقيق.
تاريخ الإسلام فى إندونيسيا بصورة أوسع وبصفة مستمرة, وتقرر أن تكون الهيئة في مدينة ميدان \ Medan, مع إنشاء فروع لها فى الأماكن الإستراتيجية, مثل جاكرتا العاصمة لإندونيسيا.
1. Islam masuk pertama kalinya ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah tepatnya abad ke-7 dan 8 Masehi, pada masa itu orang-orang Arab datang ke Indonesia dari Negara mereka secara langsung.
2. Wilayah yang pertama kali dimasuki islam adalah pesisir utara pulau Sumatra, hal itu terjadi setelah terbentuknya masyarakat islam dan berhasilnya pengaruh politik yang dicanangkan oleh kesultanan Islam, disitu terdapat Raja Muslim pertama, yaitu di kota Aceh, yang disebut sebagai serambi Mekkah.
3. Orang-orang pribumi “Indonesia”, setelah itu memiliki andil yang besar dalam menyebarkan seruan kepada ajaran islam.
4. Diantara para pendakwah untuk yang pertama kali adalah para pedagang Arab
5. Dakwah islam di Indonesia pada gelombang pertama yang ditempuh dengan jalan damai bukan dengan jalan kekerasan – sebagaimana yang dituduhkan oleh musuh-musuh islam, yaitu dari kalangan Yahudi dan yang lainnya.
6. Islam datang ke Indonesia dengan membawa kebudayaan dan peradaban yang tinggi, yang menjadi unsure penting dari sekian banyak unsure yang membentuk kepribadian islami.
7. Bahwasanya hal yang penting/mendesak adalah adanya suatu lembaga yang menjalankan aktivitas, seperti pengeditan dan penelusuran sejarah islam di Indonesia dalam bentuk yang lebih luas dan berkelanjutan. Lembaga itu terdapat di kota Medan dan Jakarta sebagai ibu kota Indonesia.
لقد انتشر الإسلام في أرجاء إندونيسيا بالرحمة والعدل والمساواة وكان من نتائج انتشاره بطبيعة الحال أن ظهرت سلطانات وممالك وأمارات إسلامية عديدة بحيث تختلف مدتها وسعة رقعتها, ومن امثلة ذلك:
"في جزيرة كليمانتن: مملكة بروني Brunei الواقعة فى كليمانتن الشمالية والتي استقلت واضحت – سلطنة برونى دار السلام دولة صغيرة وغنية -, وسوكادانا, وبنجرماسين, وسمباواة, وبونتياناك, وبيرلاك, وسمودرا باسي.
وفى جزيرة سومطرة: أتشية, وغيرها
وفى جزيرة جاوة: دماك, وبنتن, وماترام.
وفى جزيرة سولاويسي: كووابوني, ولووك, وتالو.
وزالت هذه السلطنات والممالك والأمارات ولم تبق غير ذكريات التاريخ.[3]
Sungguh islam telah tersebar di persada nusantara ini dengan menebarkan rahmat, keadilan dan persamaan. Hasilnya adalah munculnya kesultanan dan kerajaan-kerajaan islam yang memiliki periode (masa) dan luas daerah kekuasaan yang berbeda-beda, seperti :
Di pulau Kalimantan terdapat kesultanan Burnai, yang berada di wilayah Kalimantan utara dan menjadi wilayah yang terpisah dari Indonesia. Kesultanan Burnei Darussalam merupakan Negara yang kecil dan kaya. Demikian juga kesultanan ini terdapat di daerah Sukadana, Banjarmasin, Sumbawa, Pontianak, Perlak dan Samudera Pasai.
Di pulau Sumatra terdapat Kerajaan Aceh dan lainnya.
Di pulau Jawa ada kerajaan Demak, Banten dan Mataram.
Di pulau Sulawesi terdapat kesultanan Goa, Bone, Luwak dan Talu.
Kesultanan dan kerajaan-kerajaan ini hilang, tidak ada lagi kecuali dalam penuturan-penuturan sejarah.
Kitab shahih muslim
-
Kamis, 25 Maret 2010 “RUANG LINGKUP KITAB SAHIH MUSLIM BESERTA SUBTANSINYA”
Oleh : Eny Khusniatul Wakhidah, Eka Rumsatut Yunita, Faizah Azza Nastiti,
Hanny...