Minggu, 21 Maret 2010

Hermeneutik filsafat bahasa agama


-->
PENDAHULUAN
Kitab al-Qur`an adalah kitab suci umat islam. Keberadaannya di dunia ini menjadi petunjuk bagi orang yang mengimaninya, Dan kitab al-Qur`an ini sejak diturunkan hingga sekarang dan yang akan datang tetap dalam keadaannya. Keotentikannya langsung dijaga oleh Allah swt. Apapun kehendak manusia untuk memahaminya dengan keilmuan yang memadai, al-Qur`an tidak pernah bergeser dari maksud Allah yang Maha Paham terhadap kalamNya.
Walau demikian, berbagai usaha cendikiawan (ulama`) klasik maupun modern, dengan giat memacu kepahaman mereka untuk memahami ayat-ayat al-Qur`an. Mereka telah banyak melahirkan karya-karya spektakuler dan mulia sebagai jalan untuk memahami al-Qur`an. Bahkan bukan saja dari cendikiawan muslim yang punya semangat untuk memahami teks-teks al-Qur`an ini, kalangan orientalispun bersemangat pula, dengan memunculkan kritik-kritik terhadap teks-teks dan metode untuk memahami al-Qur`an ini.
Sebagai salah satu mukzijat, bahwa al-Qur`an, memiliki struktur linguistik yang mencengangkan bagi tokoh-tokoh syair Arab dan yang lainnya, sehingga mereka tidak mampu untuk menyaingi struktur linguistic yang ada dalam al-Qur`an ini.
Oleh sebab itu, muncul keinginan dalam memahami al-Qur`an ini dengan metode baru, yaitu hermeneutic, yang artinya “tafsir”, kata ini berasal dari bahasa Yunani hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”. Maka, kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai “penafsiran” atau interpretasi. (E. Sumarsono : 2000 : 23). Dengan metode ini, diharapkan “mungkin” dapat secara komprehensif memahami filsafat bahasa dalam al-Qur`an dan kitab suci lainnya.
Dengan itu, dalam makalah ini, pemakalah berusaha untuk memahami dan menguraikan sejauh pemahaman yang dimiliki, tentang filsafat bahasa agama, dengan mengawali memahami, defenisi bahasa agama, karakteristik dan kategorisasi bahasa agama, bahasa metapora al-Qur`an, bahasa al-Qur`an dari bahasa lisan ke bahasa tulis dan cetak, intertekstualisasi bahasa agama dan bahasa iptek sebagai tantangan keberadaan al-Qur`an.
FILSAFAT BAHASA AGAMA DAN HERMENEUTIKA
A. Defenisi “Bahasa Agama”
“Bahasa” memiliki peranan penting dalam melakukan komunikasi antar sesama manusia. Tanpa bahasa manusia akan sulit untuk menyampaikan maksud dan tujuan dalam berinteraksi. Bahasa bukanlah dimaksud dengan bahasa lisan saja tapi juga bahasa tulis, bahasa tubuh, isyarat dan mungkin ada lagi bahasa selain yang disebutkan.
Oleh sebab itu, “Bahasa’ memiliki cakupan makna dan telah melahirkan teori multi dimensi dan bukan hanya sekedar ucapan (parole), tetapi di dalamnya terkandung perasaan, emosi, tata pikir bahkan juga muatan adat istiadat”. (Qomaruddin Hidayat, Bahasa Agama, hal. 73). Dalam istilah Heidegger “language is the house of beings”.
Sementara, di dalam al-Qur`an sendiri digambarkan bahwa vitalitas bahasa bagi peradaban tercermin dari Allah swt. Mengajarkan adam akan “nama-nama”, sehingga alam bisa diidentifikasi dengan mudah. (QS. Al-Baqarah (2) : 31). T. Ramsey menyatakan : “salah satu fungsi bahasa (bahasa agama) adalah sebagai media untuk menyatakan kehadiran sebuah realita dan pesona”.[1]
Dalam konsep agama, bahasa selalu diasosiasikan dengan konsep Tuhan, hal ini berlaku bagi Yahudi, Kristen dan Islam. Tidak bagi pemeluk Agama Budha.[2]
Kemudian, Agama dalam bahasa Inggris adalah religion; cakupan pengertiannya adalah semua sistem nilai yang dijadikan pegangan atau pandangan hidup oleh suatu kelompok masyarakat. Ada ungkapan “the religion is the way of being”. Yaitu agama selalu menafasi setiap tindakan manusia meskipun konsep agama dan intensitas keberagamaan seseorang akan berbeda-beda.
Oleh sebab itulah, untuk memahami defenisi “bahasa agama”, ada dua macam pendekatan; sekaligus memahami ungkapan-ungkapan keagamaan. (Qomaruddin Hidayat, Bahasa Agama, hal. 75-76).
1. Theo-oriented : yaitu kalam ilahi yang kemudian terabadikan dalam kitab suci, penekanannya adalah Tuhan dan Kalam, sehingga dasarnya adalah Kitab Suci.
2. Antropo-oriented : yaitu wacana keagamaan yang dilakukan oleh umat beragama maupun sarjana ahli agama, meskipun tidak selalu menunjuk serta menggunakan ungkapan-ungkapan kitab suci.
Pendekatan pertama pada akhirnya akan juga mengarah pada wacana keagamaan sehingga mencakup pada pengertian yang kedua, karena semua kitab suci pada urutannya melahirkan penafsiran baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Sementara pengertian pendekatan yang kedua bisa saja melepaskan kitab suci, bahkan mengarah pada narasi filsafat dan ilmiyah. Yaitu berdasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B. Karakteristik “Bahasa Agama” dan Kategorinya
Bahasa agama memiliki karakteristik, hal ini untuk mengetahui batasan antara bahasa agama sebagai narasi dan teori ilmiyah dan narasi keagamaan sebagai fenomena ekspresi keberagamaan seseorang, (Qomaruddin Hidayat, Bahasa Agama, hal. 75-76). yaitu :
1. Metafisis, yaitu berpusat pada Tuhan dan kehidupan baru dibalik kematian dunia. (yang menjadi obyek Bahasa Agamanya adalah dari sisi pendekatan theo-oriented).
2. Sebagai implikasi dari karakter yang pertama, yaitu format dan materi pokok narasi keagamaan yaitu menggunakan kitab suci.
3. Bahasa agama mencakup ungkapan dan ekspresi keagamaan secara pribadi maupun kelompok, meskipun ungkapannya menggunakan bahasa ibu.[3]
Selain bahasa agama memiliki karakteristik sebagai ke-khas-annya, bahasa agama juga dapat dikategorisasikan, hal ini untuk memberi kemudahan pemahaman dalam proses mempelajari dan memahami (mengerti) kebahasaannya, apa maunya, yaitu ada dua kategori bahasa agama,
1. Preskriptif, yaitu struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperative dan persuasive, yaitu menghendaki pembaca untuk mengikuti pesan pengarang sebagaimana terformulasikan dalam teks. Dalam ungkapan-ungkapan preskriptif posisi pengarang menjadi pusat putaran. Sementara pembaca diminta mengikuti ajakan dan sarannya.
2. Deskriptif, yaitu sifatnya lebih demokratis, pembaca diajak untuk berdiskusi atas persoalan-persoalan yang ada -penulisan ilmiyah- terutama yang berkaitan dengan sejarah, dituntut secara deskriptif sehingga memungkinkan pembaca ikut menafsirkan dan mengembangkan lebih jauh.
Dalam kitab suci pesan dan perintah Tuhan kadangkala dituangkan dalam bentuk narasi deskriptif serta ungkapan-ungkapan metaforis. Dikalangan ulama` mutakallim (teolog islam) bahkan terdapat pandangan yang cukup kuat bahwa salah satu kekuatan al-Qur`an justru terletak pada gaya bahasanya sehingga jago-jago terbaik dalam bidang sastra saat itu harus mengakui kekalahan mereka ketika dihadapkan pada tantangan gaya bahasa al-Qur`an. Dalam kritik sastra, gaya serta keindahan bahasa al-Qur`an tidak bisa dikategorikan sebagai prosa maupun puisi, karena bahasa al-Qur`an sesungguhnya lebih menekankan makna yang sanggup menggugah kesadaran batin dan akal budi ketimbang sekedar ungkapan kata yang berbunga-bunga, disini perlu diberi penekanan, gaya bahasa hanyalah salah satu aspek saja. Sedangkan aspek yang paling fundamental dari al-Qur`an adalah pada kejelasan dan ketegasan maknanya, terutama menyangkut doktrin tauhid dan hukum. Itulah sebabnya dalam sejarah sastra Arab klasik dikenal perbedaan karakter antara sastra Arab pra al-Qur`an dan pasca al-Qur`an.[4] (Much. Nur Ichwan, 2003 : 66)
C. Bahasa Metaphora al-Qur`an
Istilah “metaphora” berasal dari bahasa Yunani, “meta” berarti berada diseberang atau dibalik, dan “pherein” membawa serta. Dalam bahasa Arab kata ini hampir sama dengan arti kata “i`tibar” yang artinya “jembatan” atau “penyeberangan”. Sementara Abd al-Qahir al-Jurjani (w. 471/1079), yang dikutip oleh Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, menjelaskan secara komprehensif dan menyeluruh konsep (pengertian) metaphora- dia menulis dengan istilah kata isti`arah, yaitu peralihan makna dari kata ataupun suku kata yang, dalam penggunaan bahasa keseharian, memiliki makna dasar atau makna asli, kemudian, karena dan lain hal, baik oleh para sastrawan ataupun kalangan kebanyakan menjadi beralih ke makna lainnya yang terkadang melampaui batas-batas leksikalnya. (Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur`an Kitab Sastra Terbesar, cet. Kedua, eLSAQ, 2006, hal. 210).[5]
Di dalam al-Qur`an memiliki ungkapan-ungkapan metaforis, kiasan dan narasi dalam bentuk cerita, sehingga memiliki makna dan pesan secara psikolinguistik, dikatakan bahwa untuk sampai pada tahap pemikiran konseptual diperlukan tahapan-tahapan, seperti proses berfikir dan berbahasa itu memiliki keterkaitan dengan perkembangan jiwa seseorang.[6]
Dengan demikian konsep tentang Tuhan dan akhirat yang dirumuskan oleh teolog adalah bukan paket yang utuh dari kitab suci melainkan produk pemikiran yang tumbuh dalam sejarah dan juga dalam kesadaran kognitif seseorang yang memakan waktu yang cukup panjang. Hal inilah ada relevansinya dengan konsep “taklif” selalu dikaitkan dengan “akil balig”. Kewajiban agama akan berlaku pada seseorang yang akalnya telah mencapai tahap perkembangan dewasa dan berfungsi secara normal.
Oleh sebab itu, dalam memikirkan, membahasakan dan mengekspresikan pikiran tentang Tuhan dan obyek yang abastrak, manusia “harus” menggunakan ungkapan yang familiyar dengan dunia indrawi, dengan bahasa kiasan dan simbol-simbol sekuler, hanya kemudian diberi muatan yang melewati realitas indrawi. Dengan kata lain, bahasa agama secara historis antropologis adalah bahasa manusia, tetapi secara teologis di dalamnya memuat Kalam Ilahi yang bersifat transhistoris atau metahistoris.
Kekuatan bahasa methaforis adalah dapat mempertemukan antara ikatan emosional dan pemahaman kognitif sehingga seseorang dapat memungkinkan untuk mampu melihat dan merasakan sesuatu yang berada jauh di belakang teks.
Termasuk juga dalam hal ini adalah ungkapan ikonografis al-Qur`an yang memiliki daya imajinasi dan mampu membangkitkan emosi pembacanya, misalnya al-Qur`an menggambarkan hari kiamat, siksa neraka atau keindahan surga. Al-Qur`an menggambarkan ketika suatu saat nanti bintang gemintang saling bertabrakan yang satu menghancurkan yang lain sehingga memunculkan suara gemuruh yang tak terperikan dan manusiapun lari tunggang langgang ketakutan. Lalu bagaimana siksa neraka digambarkan bagaikan perkampungan api sementara penghuninya terkurung tidak bisa melarikan diri. Dan syurga disajikan dengan gambaran taman yang rindang beserta para bidadari yang amat menawan yang telah menanti kedatangan calon penghuni syurga. Menurut analisa psiko-sosiolinguistik, metaphor dan bahasa ikonografik yang disajikan al-Qur`an sangat efektif untuk menghancurkan kesombongan masyarakat jahilyah Arab kala itu yang tingkat sastranya dikenal sangat tinggi.
Oleh sebab itu, bahasa agama dikategorikan sebagai “performatif and expressif language” bukan “explanative and descriptive uterance”, yaitu sebagian bahasa yang digunakan dalam al-Qur`an adalah bersifat simbolik dan tidak memiliki sifat keilmuan tetapi sebagai ekspresi keimanan yang cendrung performatif dan deklaratif. Contoh bahasa peribadatan. Bacaan shalat yang wajib itu tidak banyak, takbir, fatihah dan salam. Kalau dihayati kekuatan bahasa shalat itu ada pada bahasa gerak itu sendiri. Menurut teori bahasa, suasana batin ketika seseorang sujud dengan khusyu` sambil merapatkan kening ke tanah, ungkapan kata-kata tak sanggup untuk menjelaskan secara tuntas dan tepat suasana batin seseorang. (bahasa performatif yang penuh dengan ekspresi simbolik).
D. Bahasa al-Qur`an : dari Bahasa Lisan ke Bahasa Tulis dan Cetak
1. Wahyu adalah Bahasa Lisan
Wahyu (al-Qur`an) turun kepada Nabi Muhammad dalam wujud bahasa “suara” atau bisikan,[7] tetapi dikalangan ulama` tafsir berbeda pendapat tentang hal ini, sesungguhnya firman Allah swt yang disampaikan kepada Nabi Muhammad itu melalui wujud apa dan prosesnya bagaimana ?.[8] artinya mereka ingin mengetahui lebih jauh bagaimana Allah yang Maha Absolut berkomunikasi dan merekamkan “BahasaNya” ke dalam diri manusia yang relative yang kemudian terjelma ke dalam ungkapan lisan Arab. Dengan ungkapan lain, kalangan filosof; terdorong untuk mendapatkan pemahaman secara maksimal mengenai hubungan simbiotik antara kalam (ide) Allah yang abadi, universal, metahistoris, yang kemudian hadir ke dalam “tubuh” bahasa Arab yang bersifat budaya, berdimensi local dan particular.[9]
Akan tetapi Fazlur Rahman (1996 : 31-33), memastikan bahwa “al-Qur`an secara keseluruhan adalah kata-kata (firman) Allah, dan, dalam pengertian yang biasa, juga keseluruhannya merupakan kata-kata Muhammad … jadi, al-Qur`an adalah murni kata-kata ilahi, namun, tentu saja, ia sama-sama secara intim berkaitan dengan personalitas paling dalam Nabi Muhammad yang hubungannya dengan kata-kata (firman) ilahi itu tidak dapat dipahami secara mekanis seperti hubungan sebuah rekaman. Kata-kata ilahi mengalir melalui hati Nabi.[10]
Sementara Penggunaan bahasa lisan dalam agama Islam masih kuat dipertahankan apalagi dalam kaitannya dengan ibadah.[11] Dalam al-Qur`an terdapat beberapa ayat menunjuk pada penggunaan bahasa lisan ini, yaitu kata “Qul …”, katakanlah, kalau dari bahasa al-Qur`an sendiri berarti “bacaan”.
Faktor-faktor keunggulan bahasa agama dengan menekankan pada bahasa lisan, yaitu :
1. Karena berkaitan dengan bahasa historis, bahwa agama diturunkan kepada masyarakat yang masih didominasi oleh tradisi bicara dengar bukan baca tulis.
2. Karena sasaran agama adalah masyarakat luas, sehingga metode dakwahnya tentu lebih tepat menggunakan tradisi lisan.
2. Ketika Wahyu itu menjadi Teks
Dari sisi motif pewahyuan pada mulanya manusia (Muhammad dan Rasul Tuhan yang lain) adalah obyek dari kitab suci. Kitab suci di wahyukan Tuhan untuk menyapa manusia dan mengajaknya ke jalan keselamatan. Tetapi dalam perjalanannya, ketika wahyu telah menjelma menjadi teks, maka kitab suci berubah menjadi obyek, sementara manusia berperan sebagai subyek ; disitu muncul obyektivikasi manusia terhadap kitab suci. Dengan demikian, konsep kitab suci bersifat relasional,[12] keberadaan dan kesuciannya berkaitan dengan sikap manusia yang meresponinya.
Dengan perubahan ini, seiring dengan perkembangan fenomena masyarakat modern yang menggeser pola hubungan organic ke atomic, dari komunalisme ke individualism, dari bicara dengar ke baca tulis, maka peran al-Qur`an dalam masyarakat juga mengalami pergeseran. Jika pada abad pertengahan posisi kitab suci berada di tengah kekuasaan politik sebagai alat justifikasi politik dan sumber rujukan hukum,[13] maka sekarang kitab suci lebih banyak sebagai justifikasi ritual dan objek kajian. Karena telah tercetak dan lebur di tengah bazaar teks dan bahasa keilmuan lain. Maka kitab suci harus merelakan dirinya untuk diperlakukan dengan sejajar dengan teks-teks lain.
Kitab suci sebagai bentuk visual telah beralih posisi sebagai obyek komoditi dan kritik literature tanpa disertai pengarang dan penafsir yang otoritatif (Nabi Muhammad) yang langsung tampil menjelaskan dan membela akan keberadaan dirinya sendiri.
Pendekatan kritis dan sekularistik ini lazim berlaku dalam dunia akademisi, khususnya di Barat, sehingga merupakan hal yang biasa saja kalau sebuah kritik literature kadangkala dirasakan sangat menyakitkan bagi telinga orang yahudi, Kristen maupun muslim yang masing-masing menyucikan kitab sucinya.
Bagi mazhab strukturalisme-linguistik, kitab suci itu merupakan buku literature, oleh sebab itu memahaminya dengan melakukan analisa struktur dan system tanda yang ada. Teks kitab suci disini adalah berdiri sendiri secara otonom.
Oleh sebab itu, teks menampilkan dirinya melalui jaringan system tanda sehingga memungkinkan pembaca mengajaknya berdialog dengannya. Apakah mungkin hal ini terjadi ??? tanpa harus menyelami pemikiran pengarangnya. Disinilah ilmu semiologi[14] berperan untuk mencari asal-usul sebuah teks, pesan apa yang hendak disampaikan dan dari lingkungan serta kultur apa teks di lahirkan.[15] Pada tahap ini semiologi telah bergeser menjadi disiplin hermeneutika historis dan psiokologis.
Walaupun demikian, Kitab suci apapun namanya akan menjadi bermakna hanya ketika diposisikan secara rasional dengan masyarakat pembaca yang mengimani sebagai sabda suci Tuhan. kitab suci tidak berdiri sendiri tetapi memiliki kaitan dengan tradisi dan komunitas beragama yang meresponinya, teks al-Qur`an selalu dibaca dan ditafsirkan.
Posisi kitab suci al-Qur`an dan kitab-kitab suci lainnya dari agama samawi memiliki dua dimensi, yaitu dimensi historis dan dimensi transhistoris. Kitab suci menjembati jarak antara Tuhan dan manusia. Tuhan hadir menyapa manusia di balik “hijab” Kalam-Nya yang kemudian menyejarah, oleh karena itu dalam pandangan al-Qur`an sendiri, teks atau Kalam Tuhan tidak terbatas pada firman yang terucapkan dan tertulis (kitab suci) yang pernah muncul berulang kali al-Qur`an dalam rentangan sejarah. Melainkan alam raya sendiri jug disebut “alam” dan “ayat” yang berfungsi sebagai tanda (dallah, isim, signifier), yang jika ditelusuri akan menunjukkan adanya realitas lain yang tidak hadir.
E. Intertekstualisasi Bahasa Agama
Al-Qur`an adalah kalam Allah swt yang paling tinggi otentisitanya, untuk memahaminya diperlukan teks-teks lainnya, yaitu hadits Nabi saw.
Intertekstualitas pada level pertama terlihat pada struktur atau system tanda yang ada pada al-Qur`an sendiri yang lazim digunakan pada pendekatan tematis al-Qur`an yang didasarkan pada formula al-Qur`an, yufassiru ba`dhuhum ba`dha, ayat al-Qur`an ditafsirkan dengan ayat al-Qur`an yang lain. Dalam hal ini muncul permasalahan, yaitu bagaimana kita tahu dan yakin bahwa teks ayat tertentu menafsirkan teks ayat yang lain, dari sinilah makna dan peran penafsiran lalu hadir. Lingkaran internal intertekstualitas al-Qur`an telah dibuka dan dimasuki oleh teks lain diluarnya, yaitu oleh Muhammad saw dan para penafsir lain.
Ketika al-Qur`an bertemu dengan budaya non-Arab, intertekstualitas bahasa agama berkembang abad ke-9 setelah jaman sahabat, kitab-kitab klasik tidak luput dari intertekstualitas antara al-Qur`an, hadits dan teks-teks filsafat Yunani.
F. Bahasa Iptek sebagai Tantangan “Bahasa Al-Qur`an”
Islam adalah agama universal yang relevan pada setiap tempat dan jaman, oleh karena keuniversalannya itu, islam tidak mengenal Islam tradisional dan Islam modern, Islam Arab dan Islam non Arab. Keuniversalan Islam ini kalau ditinjau dari sosio-empirik dalam tataran kehidupan manusia masih bersifat teologis doktrinatif, sebab agama lainpun memiliki klaim yang sama sesuai dengan keyakinannya. Walaupun demikian keuniversalan Islam itu dapat dipertahan dengan tiga argumentnya, yaitu :
1. Islam itu adalah agama yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang menyempurnakan agama-agama yang telah diturunkan sebelumnya.
2. Ajaran Islam relevan untuk segala waktu dan tempat, pedoman hidup untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.
3. Islam menuntut kepada umatnya untuk memperjuangkan agar menjadi agama satu-satunya di muka bumi. (Komaruddin Hidayat, hal. 89-90)
Dalam perkembangan kehidupan manusia, setelah ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang maju dengan pesatnya, agama mulai ditinggalkan. Karena iptek menawarkan sebuah gaya dan pandangan hidup yang kemudian menjelma menjadi “pseudo-agama” yang memiliki “pseudo-syari`ah” sendiri. Katakanlah computer, teknologi ini memberikan sarana yang sangat efektif bagi terwujudnya bentuk kerjasama antar otak dan mesin (minds and machines work together). Persoalan-persoalan yang muncul dan ruwet dapat dikendalikan dan dikontrol oleh computer. Katakanlah dalam dunia bisnis sangat mendukung efisiensi dan efektivitas kerja. Sementara bahasa agama hanya menengadahkan tangan berdo`a kepada Tuhannya.[16]
Dalam menanggapi fenomena hukum alam, (bahasa) ilmu pengetahuan dan teknologi akan melakukan sebuah pengkajian yang mendalam dan komprehensif, mengapa hal itu bisa terjadi???. Sehingga berangkat dari itu para ilmuwan melakukan penelitian dengan metodologi iptek, yaitu mendeskripsikan tentang karakter, perilaku dan hokum alam tanpa berpretensi mengubah sifat-sifatnya. Paling jauh mempertemukan dan mensintesakannya. Katakanlah sebagai contoh hukum Newton, yang melahirkan sebuah teori hukum gravitasi bumi.
Dari metodologi iptek itu, untuk mengetahui kebenarannya terdapat cirri-ciri tertentu, yaitu : (Qomaruddin Hidayat : 92-93)
1. Proposisi iptek bersifat empirical-universal, kebenaran ilmiyah akan berlaku secara universal pada jenis yang sama yang sudah diverifikasi kebenarannya melalui eksperimen. Contoh hukum fisika, kebenarannya dapat dilakukan dengan jalan penhujian secara empiris. Sebuah mobil dibuat apabila ada kerusakan atau kesalahan akan dilakukan pengujian ulang.
2. Bahasa iptek selalu bersifat hipotetis, formula bahasa hipotesis selalu mengandung pengandaian hokum sebab-akibat; “jika … (air dipanaskan sekian derajat) maka … (akan menguap).”
3. Proposisi kebenaran iptek bersifat “open-ended”, setiap penemuan ataupun rumusan keilmuan mau tidak mau mesti terbuka untuk dikritik dan diganti dengan penemuan baru yang terbukti lebih benar. hal ini iptek selalu dinamis.
4. Bahasa iptek penuh dengan prediksi empiris. Dengan pengetahuan dan data atas perilaku hukum alam yang telah diketahui sebab akibatnya, maka iptek membuat prediksi atau ramalan ke depan.
5. Dari formula hipotetis bahasa iptek berkembang pada teori dan eksplanasi pada obyek yang mudah diamati sampai pada obyek yang tidak bisa diamati, yaitu pada level atom atau partikel. Contoh (Demokritus) setiap obyek yang kasat mata, kalau dianalisa lebih detail maka obyek itu akan hilang dan berubah menjadi kepingan partikel yang kecil-kecil yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Sebagai contoh gula dicampur dengan air.
· Ketika bahasa iptek disejajarkan dengan bahasa agama
Seiring dengan perkembangannya, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perubahan fungsi dan posisi, yaitu iptek bukan lagi sebagai pelayan atau fasilitator teknis bagi kehidupan manusia melainkan telah berkembang sebagai “isme”, yaitu cenderung menyaingi ajaran Gereja.
Ketika ilmu pengetahuan jatuh pada asuhan filsafat emperisisme-positivisme, maka iptek tidak lagi berbicara sekadar kepada level teknikalistik melainkan beranjak pada konsep pandangan hidup (worldview). Implikasinya bahasa iptek telah memacu proses demitologisasi terhadap dunia bahasa, bahkan juga proses demitisisasi. Pada tahap pertama, demitologisasi, jelas positif bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan yang selalu mengasumsikan sikap rasional dan pendekatan emperikal. Tetapi pada tahap kedua akan mengakibatkan kekeringan dan pemiskinan pandangan hidup keagamaan karena pengalaman keberagamaan yang terdalam, yaitu pengalaman kehadiran Tuhan pada diri seseorang terwadahi dalam bahasa mitis yang di dalamnya penuh misteri dan metaphor. Contoh isra` mi`raj tidak dijelaskan secara deskriptif. (Qomqruddin Hidayat : 95). Dalam masalah ini juga telah dibahas secara detail dalam pertemuan-pertemuan perkuliahan Hermeneutika oleh Abu Hapsin.
G. Penutup
“Bahasa Agama” adalah bahasa Tuhan, yang memiliki ciri dan karakter tersendiri sehingga beda dengan bahasa-bahasa yang lainnya. Katakanlah bahasa Tuhan (firman Allah swt) dalam Al-Qur`an, yang telah diakui oleh pakar-pakar linguistic, tata bahasa yang tidak tertandingi oleh kemampuan manusia. Dan diyakini, bahwa kandungan isi Al-Qur`an memberi petunjuk bagi manusia serta sifatnya universal.
Dengan itu, untuk dapat memahami sehingga dapat berlaku sepanjang jaman kitab-kitab suci itu, termasuk Al-Qur`an, dengan menggunakan metode hermeneutika. Hal ini terlepas dari pro kontra diantara para pakar tentang penggunaan metode penafsiran “hermeneutic”.



[1] Ketika dua orang bertemu dan masing-masing memperkenalkan nama diri, maka ekspresi penyebutan nama bagaikan mencairkan sebuah es. “the ice does not continue to melt it breaks,” kata Ramsey; sebuah percakapan dan pertemuan (encounter), akan merubah suasana dari sekedar himpunan benda-benda mati (something) menjadi suasana yang hidup, yang terdiri dari pesona yang berpribadi (someone). Dan semua ini tidak akan terjadi tanpa peran bahasa yang menjembatani serta membukakan jalan bagi sebuah komunikasi bagi antara sesame manusia, antara manusia dan alam dan antara manusia dengan Tuhan.
[2] Pengertian dan posisi Tuhan bagi mereka tidak penting bahkan mereka tidak terbiasa serta tak diajarkan mengenai doktrin tentang Tuhan sebagai persone.
[3] Contoh, Yang mudah dilihat adalah do`a-do`a yang disusun dan diucapkan dalam bahasa local. Bagi orang awam tentunya akan sulit membedakan antara ungkapan al-Qur`an, Hadits dan pembicaraan harian masyarakat Arab, adakah itu bahasa agama atau bukan.
[4] Hal ini sejalan dengan pendapat Amin al-Khuli, yang mengatakan bahwa, masyarakat Arab mengakui kebesaran linguistic al-Qur`an… dan lanjutannya dia juga mengkritik beberapa ilmuwan yang menginterpretasikan al-Qur`an berdasarkan atas tujuan-tujuan legal, teologis, dan ideologis mereka. Dia yakin bahwa study sastra atas teks al-Qur`an dapat membatasi subjektivitas interpreter. (Dikutip oleh Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur`an : Teori Hermeneutika Nashr Abu Zayd, Teraju, Jakarta h. 66, 2003
[5] Ada dua jenis bahasa metaphora menurut Al-Jurjani, yaitu ada dalam kata benda, contoh kata “singa” bagi orang pemberani, “laut” bagi orang dermawan dan bulan purnama bagi seseorang yang berwajah cerah. Dan ada pula dalam kata kerja. Dalam kata kerja ini terkadang terdapat pada subjek atau objek, contohnya, ( öNßg»oYø%¨tBur ¨@ä. A-¨yJãB , kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. QS. 34 : 19. (mumazzaq,merobek), $VJtBé&ÚöF{$#ÎûLài»oY÷è©Üs%ur, kami bag-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan, QS, 7 : 168. (qata`nahum, memotong). Dalam bait syair,امام * قتل البخلى واحيى السماح جمع الحق لنا في, semua hak bagi kita terpadu pada satu imam*yang membunuh kebakhilan dan menghidupkan kedermawanan. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur`an Kitab Sastra Terbesar, cet. Kedua, eLSAQ, 2006, hal. 212 - 221
[6] Proses berbahasa anak kecil yaitu dengan melakukan mimesis, peniruan. Demikian juga ada pada orang jenius, tetapi pada mereka ini langsung sekaligus mengembangkan dan mencipta. Contoh pada proses pembuatan kapal laut dan kapal terbang, yang berawal dari berfikir ikonik. (iconic thinking). Ketika penciptanya melihat gerakan burung dan ikan, hal ini mendorongnya untuk berfikir asosiatif imaginative. Ikoniknya muncul dalam bentuk idea abstrak, kemudian persepsi, abstrak asosiasi, imajinasi, aprehensi kemudian pemikiran reflektif konseptual / spekulatif metafisis.
[7] Disini, “komunikasi” antara Tuhan dan manusia menunjukkan : Tuhan sebagai komunikator aktif dan manusia sebagai yang pasif. Dengan kata lain, manusia menerima pesan berupa tanda-tanda ketuhanan melalaui kode komunikasi yang dipakai oleh Tuhan. komunikasi ini, menurut kajian teologi islam klasik, bisa berupa dua bentuk. Pertama, komunikasi linguistic atau verbal, dan kedua, non linguistic, yakni tanda-tanda alam. (Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur`an Kitab Sastra Terbesar, cet. Kedua, eLSAQ, 2006, hal. 55).
[8] Komunikasi linguistic antara Tuhan dan manusia hanya bisa terjadi tatkala ada “kesetaraan” antar keduanya. Menurut Syamsuddin Ibn Yusuf al-Kirmani (w. 786/1384) pesan Tuhan yang disampaikan kepada manusia berupa pesan verbal, dan secara teoritis, pesan tersebut tidak mungkin bisa dipahami serta dicerna tanpa didahului proses dialogis dan transformative. Kedua proses tersebut juga tidak mungkin terjadi antara Tuhan dan manusia tanpa didahului kesetaraan status : manusia ditingkatkan sampai pada derajat malaikat, sedang Tuhan menyesuaikan derajat ketuhanan. (Al-Kirmani, Syarh Shahih al-Bukhari, Cairo, t.t, Juz I, hal. 28
[9] Pertanyaan ini sering dijadikan bahan perdebatan antar ulama` tafsir dan mendorong melakukan kajian ilmiyah, sehingga melahirkan banyak buku-buku. Kadang tujuan orientalis Barat sengaja atau tidak untuk tujuan ilmiyah atau menyudutkan Islam, mereka membuat pertanyaan apakah Muhammad tidak salah tangkap ketika wahyu turun kepadanya dalam kondisi takut, menahan beban berat ???
[10].Fazlur Rahman, Islam. London: Weidenfeld and Nicolson, 1966, h. 31, 33. Dikutip oleh Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur`an : Teori Hermeneutika Nashr Abu Zayd, Teraju, Jakarta h. 63, 2003
[11] Shalat semenjak jaman Nabi hingga sekarang, membaca al-Qur`an kemudian ada orang yang mendengarkannya adalah pahala dan lain-lain. Kemudian ceramah memiliki kekuatan emosional untuk memelihara solidaritas. Salah satu cirri bahasa agama adalah terletak pada retorikanya yang mudah membangkitkan emosi.
[12] Merupakan satu teks yang berhubungan dengan satu tradisi yang sedang berjalan, yakni berhubungan dengan pribadi-pribadi atau masyarakat-masyarakat yang menganggapnya sacral dan normative. (pendapat Esack yang dikutip oleh Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur`an : antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi, Qalam, Yogyakarta, 2002, hal. 49
[13] Berdasarkan kenyataan Abu Zayd sadar bahwa selalu ada kelompok-kelompok yang menggunakan Islam secara ideologis untuk mendukung tujuan-tujuan politik dan ekonomi. (Nashr Abu Zayd, Mafhum Al-Nashsh : Dirasah fi Ulum Al-Qur`an. Kairo : Al-Hay`ah Al-Mishriyyah Al-`Ammah li Al-Kitab, 1993, h. 12-13 dikutip oleh Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur`an : Teori Hermeneutika Nashr Abu Zayd, Teraju, Jakarta h. 61, 2003
[14] Dalam semiotic ini, teks teks mencakup segala macam system tanda yang memproduksi makna, seperti symbol, patung, iklan, karikatur dan analisi wacana, yaitu yang mengkaji tanda-tanda linguistic. Moch. Nur Ikhwan, hal. 68
[15]Silverma, The Subject of Semiotics (Oxford University press, 1983, Bab 1, from Sign Subject
[16]Do`a yang dianggap oleh pendukung metode ilmiyah emperisisme-eksperimental sebagai ungkapan agama yang selalu subyektif, emosional dan tidak memiliki landasan justifikasi objektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar